Menakar Model Pergolakan Demokratis

Review Artikel Daniel Murray “Democratic Insurrection: Constructing The Common In Global Resistence”

Demokrasi adalah sistem yang berasal dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat, begitu dikatakan untuk menggambarkan apa itu demokrasi. Dalam perkembangannya demokrasi menjadi model pemerintahan yang tidak selalu sama di berbagai negara. Demokrasi dalam tahap evolusinya menjadi produk interpretasi dari setiap pemikiran bangsa-bangsa. Namun dalam setiap corak “oleh rakyat”-nya, demokrasi juga mempunyai alat untuk mengoreksi bila produk kekuasaannya tidak sesuai dengan “untuk rakyat”. Pergolakan dalam berbagai bentuk diantaranya adalah demonstrasi menjadi alat demokratis untuk mengoreksi produk kekuasaan. Pergolakan demokratis (democratic insurrection) merupakan alat koreksi kekuasaan yang sah dalam sistem demokrasi, walaupun tidak selalu diterima dengan lapang dada oleh penguasa. Kekuasaan dalam sistem demokratis terkadang resisten terhadap usaha-usaha koreksi tersebut. Penguasa berusaha untuk mengakhiri usaha yang biasanya dianggap mengganggu stabilitas pemerintah ini. Daniel David Murray, ilmuwan gerakan sosial dari Stanford University, memetakan dan melihat beberapa model (teori) yang berkenaan dengan pergolakan demokratis dan resistensinya.

Murray mencontohkan berbagai pergolakan demokratis seperti pergerakan yang menuntut adanya keadilan iklim. Selain itu pergolakan demokratis dibangun di dalam suasana yang terdominasi dan negara kapitalistik. Dalam maksudnya tersebut, pergolakan yang dimaksud oleh Murray adalah bertujuan untuk memperjuangkan kemanusiaan dan perlawanan atas neoliberalisme. Namun menurutnya, pergolakan demokratis ini masih dalam tahap pencarian model yang bisa digunakan dalam skala global. Tantangan bagi para penteori dan praktisi pergolakan ini adalah menemukan ramuan ampuh yang bisa digunakan untuk memperluas skalanya dari sebatas pergolakan yang individual, spesifik, dan lokal.

Tantangan lainnya yang menghambat para teoritikus dan praktisi adalah bagaimana menggabungkan resistensi anarkis dan praktes demokrasi yang langsung. Hal ini berhubungan erat dengan masalah-masalah lainnya seperti skala yang kecil, bentuk organisasi yang tidak tetap, dan jangkauan aksi yang terlalu luas. Namun pada akhirnya, menurut Murray, hal ini menghasilkan dan juga dihasilkan oleh apa yang menurut Michael Hardt dan Antonio Negri sebagai ‘suatu keadaan’ (the common) yang mencakup pengetahuan, narasi, pengaruh, dan nilai. Kesemuanya itu menghubungkan bentuk dan praktes, walaupun terus terbuka untuk didefinisikan ulang.

Sebuah Pertimbangan Metodologis

Sebelum memaparkan pergolakan ideologis secara konseptual, Murray menjelaskan terlebih dahulu metodologi yang menunjang konsep tersebut. Dalam pertimbangannya, Murray melihat adanya suatu pemikiran yang melihat secara kritis dua profesi yang berhubungan dengan pergolakan demokratis; Seorang akademisi dan aktivis. Keduanya berpengaruh dalam mengembangkan analisis dan riset yang berguna dalam menyusun aktivitas politik. Dalam melihat hal ini, Murray mengaku terpengaruh dua teori: teori keterkaitan pergerakan dan filsafat politik partisipasi. Kedua teori tersebut menghasilkan pengetahuan yang berguna untuk pergolakan demokratis. Kemudian Murray menceritakan aktivismenya dalam pergolakan demokratis seperti dalam pertemuan G-20 di Pittsburgh, Forum Sosial AS di Detroit, dan beberapa forum yang menyuarakan tentang keadilan iklim dan demokrasi. Agaknya hemat penulis, Murray ingin membuktikan bahwa tidak ada dikotomi aktvis dan akademis dalam kontribusi berbagai pergolakan demokratis. Menurutnya, sebagai akademisi memiliki peran tersendiri dalam pergolakan tersebut. Dengan menyaksikan sendiri realitas pergolakan di akar rumput, dirinya akan menghasilkan output riset akademis yang bermanfaat, tidak hanya untuk dunia akademis namun juga untuk dunia aktivisme itu sendiri.

Beberapa Model

Ada beberapa model yang dilihat oleh Murray dalam konteks pergolakan demokratis:

Pertama, teori demokrasi radikal (radical democracy) yang digagas oleh Chantal Mouffe, seorang teoritikus politik asal Belgia. Pada dasarnya Mouffe melihat bahwa masalah konsensus dalam demokrasi membutuhkan beberapa syarat, diantaranya adalah institusi negara dan politisi yang professional. Namun faktanya, yang terjadi adalah permusuhan diantara kompetisi perebutan keinginan dan permintaan. Mouffe menganggap bahwa usaha untuk membentuk konsensus bukanlah hal yang esensial, karena konflik yang terjadi adalah hal yang alamiah. Kebebasan sesungguhnya adalah mengakui keberagaman itu sendiri, bukan mencari konsensus.

Menurut Mouffe, menerima suatu yang tidak diputuskan (undecidability) mensyaratkan adanya kesadaran atas sifat menghegemoni dari satu kelompok terhadap kelompok lain dalam setiap keteraturan sosial. Selain itu, masyarakat juga dilihat sebagai hasil dari siapapun yang ingin membangun keteraturan sosial di tengah segala kemungkinan. Sehingga pergolakan apapun yang terjadi harus dipandang sebagai proses demokratis.

Kedua, Murray melihat teoritikus lain berkenaan dengan pergolakan demokratis tersebut. Adalah David Held yang mencetuskan teori kosmopolitanisme, yakni suatu paham yang meyakini kesatuan global umat manusia. Penjelasan Murray berangkat dari eksplanasi Chantal Mouffe akan keyakinan bahwa dunia seharusnya dibuat multipolar, bukan unipolar. Dalam hal ini, menurut Mouffe keberagaman nilai, budaya, dan interpretasi dalam berdemokrasi di antara negara-negara haruslah dijaga. Hal ini berbeda dengan pemahaman Held, yakni manusia tidak bisa dibatasi oleh letak geografis, budaya, bangsa, etnis, maupun gender. Semua manusia harus sejajar dalam mendapatkan hak dan kehormatan. Pemahaman Held ini berdampak luas terhadap berbagai hal, terutama berkaitan dengan kedaulatan (sovereignty) dan sistem internasional saat ini yaitu negara-bangsa (nation-state). Held menegaskan perbedaan pendapatnya dengan Mouffe dengan meyakini bahwa untuk menunjang kosmopolitanisme tersebut, dibutuhkan suatu peraturan atau hukum internasional agar menjamin suatu dunia yang tanpa batasan-batasan. Namun bila dilihat dari dua teoritikus tersebut, terlihat bahwa keduanya masih meyakini adanya suatu keteraturan/tatanan (order).

Ketiga, Murray kemudian menghadirkan anarkisme, ideologi yang mengkritik demokrasi terutama dalam konteks ‘negara’. Anarkisme sebenarnya dilahirkan dan terinspirasi dari ideologi lainnya yaitu marxisme. Keduanya sama-sama memandang bahwa negara adalah alat kekuasaan borjuis. Namun bedanya, marxisme masih memandang bahwa negara juga bisa menjadi alat perjuangan proletariat. Sedangkan anarkisme sama sekali memandang bahwa negara hanya akan menguntungkan kelas-kelas tertentu yang teristimewakan. Errico Malatesta menulis, “demokrasi adalah suatu kebohongan, karena bentuk aslinya ada oligarki”.

Murray menjelaskan juga, bahwa teoritikus anarkisme juga berbeda pendapat mengenai demokrasi. Ada yang melihat harus ada penolakan lebih luas daripada sekedar pada bentuk negara, namun juga pada suatu sistem yaitu demokrasi. Max Stirner misalnya, yang mengatakan bahwa tidak ada harapan sama sekali pada upaya institusionalisasi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa penolakan kepada negara, tidak harus menolak prinsip demokrasi.  Menurutnya, “kita bisa menggunakan demokrasi, tetapi bukan demokrasi yang menggunakan kita”. Cita-cita demokrasi tentang persamaan, kebebasan, dan partisipasi pada dasarnya tidak bertentangan dengan cita-cita anarkisme.

Demokrasi, Disilusi, dan Perjuangan Politik

Murray berkata bahwa pergolakan demokratis adalah sebuah upaya yang betujuan untuk membebaskan keadaan menuju demokrasi yang hakiki. Demokrasi yang ingin dicapai adalah yang berorientasi pada musyawarah, keputusan, dan eksekusi. Demokrasi tidak hanya sebagai bentuk sistem sebuah negara, tetapi juga bentuk dari pengambilan keputusan bersama.

Pergolakan demokratis oleh Murray ini adalah respon dari berbagai praktek demokrasi yang dianggap tidak lagi bisa memfasilitasi transformasi sosial dan politik. Kritik dari Murray ini sebenarnya juga membahas bagaimana pergolakan demokratis ini bisa berjalan lebih baik, terutama untuk mencapai tujuan-tujuannya. Namun penulis sengaja fokus kepada kritik Murray kepada celah-celah demokrasi melalui penjelasan teori demokrasi radikal, kosmopolitanisme, dan anarkisme.

Ada pembanding (kalau tidak bisa dikatakan tambahan) penjelasan yang juga mendukung kegundahan akan demokrasi seperti diungkapkan Murray. Goenawan Mohamad (2008) misalnya yang melihat bahwa demokrasi sekarang adalah sebuah scene, yang tentunya mempunyai yang teracuhkan sebagai obscene. Sistem representasi seakan-akan menjadi ilusi yang mengacuhkan –yang menurut Mohamad- sebagai “sang antah” (le reel). Mohamad juga menyatakan bahwa demokrasi adalah suatu sistem yang mempunyai “kurva lonceng”, dimana seorang pemimpin akan tersandera kepentingan kelompok yang tidak nyaman dengan perubahan ekstrem. Hal ini juga yang menurut Mohamad –mengutip Ranciere- sebagai terbunuhnya “politik” sebagai perjuangan (la politique), sedangkan “politik” sebagai alat tukar kekuasaan dan pengaruh (la police) terus hidup dan mewarnai kehidupan Indonesia.

Namun di dalam buku yang sama Liddle (2008) mengutip Weber, “politik adalah pengeboran kayu yang keras dan lama”. Liddle sedikit membela demokrasi dengan mengoreksi argumen Mohamad bahwa perjuangan yang dimaksud Mohamad hanya menggambarkan perjuangan dari luar, bukan dari dalam. Kenyataannya, kelembagaan demokrasi tidak terlepas dari perjuangan itu sendiri. Perjuangan demokrasi bisa dilakukan dari dalam institusi itu sendiri.

 

Bahan Bacaan

–          Daniel Murray, “Democratic Insurrection: Constructing The Common In Global Resistance” Millennium – Journal of International Studies December 2010 vol. 39 no. 2

–          Goenawan Mohammad, William Liddle, dkk “Demokrasi dan Kekecewaan” Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, 2008.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Politik Internasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s