Pilkada DKI dan “Busyro” 2014 Untuk Prabowo

*Dimuat di Harian Radar Cirebon, edisi Selasa 28 Agustus 2012

Hingar bingar Idul Fitri tahun ini tidak menenggelamkan perhatian bangsa Indonesia terhadap hajat demokrasi warga Jakarta, yaitu pilgub DKI Jakarta 2012. Isu-isu terkait dua kandidat putaran kedua, Joko Widodo-Basuki Tjahya Purnama dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menjadi semakin sengit. Tidak peduli suasana bulan suci ramadhan dan jelang hari raya idul fitri. Isu ‘pemimpin non-muslim’ hingga ‘kebakaran berbau pilkada’ marak terjadi dan tetap menghiasi headline media.

Pilkada DKI memang bukanlah sekedar pemilihan kepala daerah untuk ibu kota negara. Pilkada DKI bukan pula sekedar hitung-hitungan angka pemilih. Tetapi Pilkada DKI adalah pijakan awal, sekaligus percontohan untuk pemilu 2014. Calon potensial yang akan memenangi pilkada DKI bisa jadi akan menghembuskan angin “perubahan” terhadap arus politik nasional menjelang 2014. Sinyal-sinyal ini membuat banyak pihak ancang-ancang.

Salah satu yang cepat menangkap sinyal ini adalah Prabowo Subianto. Pembina Partai Gerindra ini menjadi inisiator terbentuknya koalisi antara PDIP dan Gerindra untuk mengusung the rising star, Jokowi-Basuki. PDIP yang sebelumnya ingin mengusung Adang Ruchiatna mendampingi Fauzi Bowo akhirnya menerima tawaran Prabowo yang bersedia menjamin akomodasi dan cost politik.

Ada tiga faktor mengapa pilkada DKI kali ini sangat menguntungkan langkah Prabowo menuju 2014. Pertama, citra personal santun, bersih, dan merakyat yang selama ini dibangun Jokowi agaknya akan dimonopoli semuanya oleh Prabowo. Bahkan PDIP sendiri yang merupakan partai Jokowi, tidak serta merta ikut menikmati citra positif yang selama ini dibentuk oleh Jokowi. Dalam setiap iklan kampanye Jokowi, Prabowo selalu hadir dan memberikan testimoni tentang keberhasilan Jokowi. Citra Jokowi melawan status-quo juga akan menguntungkan Prabowo.

Kedua, pilkada DKI kali ini pun akan mengukuhkan sekaligus merebut citra PDIP sebagai partai wong cilik. Citra institusional yang direbut ini bisa jadi upaya Gerindra untuk merebut basis-basis PDIP yang kental dengan jargon-jargon Soekarnois dan pembela wong cilik. Prabowo yang kerap tampil dengan jargon-jargon tersebut akan menambah kesan Partai Gerindra sebagai partai wong cilik. Selain itu, seringnya koalisi antara PDIP dan Gerindra yang terjadi sejak pilpres 2009 akan semakin mengukuhkan citra tersebut. Ketiga, tampilnya Prabowo dalam iklan-iklan pilgub DKI akan menjadi semacam “promosi gratis” menuju 2014. Promosi seperti ini sudah terjadi sejak pilpres 2009 dimana Prabowo yang maju menjadi cawapres dari Megawati dinilai hanya sebagai strategi untuk meraih popularitas jangka panjang, yang dalam hal ini adalah pilpres 2014.

Pilkada DKI: Menguji Ingatan Masa Lalu

Isu yang diingat oleh sebagian masyarakat Indonesia tentang keterlibatan Prabowo adalah keterlibatannya dalam beberapa kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), diantaranya adalah penculikan aktivis mahasiswa 1998. Keterlibatan besar Prabowo dalam menyukseskan kandidat Jokowi-Ahok membuat sebagian besar masyarakat Jakarta menolak Jokowi. Namun jangan lupa, sebagian besar yang menolak Jokowi karena Prabowo hanyalah sebagian masyarakat kelas menengah atas. Hal ini terbukti sama sekali tidak berpengaruh terhadap elektabilitas Jokowi yang menang sekitar 42% suara pada putaran pertama. Ingatan masa lalu tentang Prabowo tersebut bisa jadi tidak terlalu berpengaruh, yang dalam hal ini direpresentasi oleh warga Jakarta yang relatif rasional.

Tesis diatas didukung oleh survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2012 yang menyatakan bahwa 72,8% masyarakat Indonesia mengaku tidak tahu kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Prabowo. Menurut penulis, hal ini disebabkan ingatan masyarakat Indonesia yang relatif pendek, dengan kata lain lebih mengutamakan hal-hal kontemporer-pragmatis dibandingkan isu-isu masa lalu. Isu-isu ekonomi jauh lebih diutamakan oleh masyarakat Indonesia dibandingkan isu kebebasan-HAM.

Fenomena diatas akan terjadi apabila pasangan Jokowi-Basuki kembali memenangkan pertarungan pada 20 September mendatang. Jasa-jasa Prabowo jelas tidak akan diacuhkan oleh Jokowi-Basuki apabila mereka menang, there’s no such thing as a free lunch in politic. Dan bila itu benar, maka akan menjadi ujian tersendiri bagi Jokowi-Basuki tentang bagaimana memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tapi yang jelas, ini menjadi kabar gembira (busyro) bagi Prabowo.

 

*Penulis adalah peneliti YFN-Freedom Institute, Jakarta.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Esei. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pilkada DKI dan “Busyro” 2014 Untuk Prabowo

  1. Ulasan tentang Hasil Pilkada DKI Jakarta 2012 Putaran Kedua mendatang dapat Anda lihat di situs kami. Bagi warga DKI Jakarta jangan lupa gunakan hak pilih Anda ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s