Sejumlah Kenangan dan Kritik Terhadap (Bekas) Almamater

Hari ini hampir 1 minggu setelah hari raya Idul Fitri 1433 H. Hari ini juga mungkin tepat 2 tahun saya lulus dari almamater yang telah membentuk pribadiku sekarang. Ketika membayangkan masa-masa di pesantrenku dulu, hampir tidak menyangka bahwa saya bisa melewati dengan lancar masa-masa sulit tersebut. Mengapa sulit? Dengan nilai dan pemikiran yang saya anut sekarang, termasuk beberapa ambisi dan cita-cita, kehidupan dulu sangatlah berat. Penuh dengan penempaan mental yang tinggi. Rasanya mustahil melewati masa-masa di pesantren dulu tanpa memiliki jiwa yang bersih dan ikhlas, dalam artian jiwa yang haus ilmu dan pengetahuan. Tanpa prasangka-prasangka yang biasanya menjadi noda kehidupan.

Pesantrenku bernama Ponpes Husnul Khotimah Al-Islami. Pada brosur dan pemasarannya, disebut sebagai pesantren modern yang berbasiskan tarbiyah. Dengan mencitrakan sebagai “Gontor” nya Jawa Barat, pondok ini bisa menarik calon santri dari luar kelompok tarbiyah (yang dalam hal ini lebih populer disebut PKS). Saya yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU) yang kuat, akhirnya pun tertarik nyantri disini. Orang tua saya berkomitmen kuat untuk memasukkan anak-anaknya ke pesantren demi ilmu agama. Namun, hampir semua anaknya tidak betah ketika dipondokkan di pesantren NU. Banyak sebabnya. Salah satunya adalah masih kolot/konservatifnya pesantren-pesantren NU, terutama di sekitar Cirebon. Berawal dari informasi tetangga saya, anak dari seorang bidan yang juga nyantri disitu, maka akhirnya pada tahun 2004 setelah lulus Sekolah Dasar (SD) saya nyantri di pesantren yang terletak persis dibawah kaki Gunung Ciremai, Kuningan Jawa Barat.

Masih terngiang dalam ingatan, ketika ku dinyatakan diterima seleksi untuk memasuki pesantren. Ibu langsung menyuruhku untuk mohon restu dari tetangga dekat rumah, terutama orang-orang tua yang sudah sepuh agar diperlancar selama nyantri di Husnul Khotimah. Selain itu, sebelum menaiki mobil yang akan mengantarkanku ke pondok, aku dan seisi orang rumah berdoa terlebih dahulu. Aku tidak ingat doa apa yang orang tuaku panjatkan waktu itu. Tapi yang pasti aku merasakan kesakralan luar biasa terhadap calon penuntut ilmu (tholib al-‘ilm).

Hari-hari awal di pondok aku rasakan seperti layaknya santri-santri baru lainnya, penuh kerinduan akan rumah dan orang tua. Mungkin hampir setiap doa dalam sholat, aku berdoa menginginkan yang terbaik. Termasuk doa agar aku dibetahkan di pondok ini. Karena menurutku waktu itu, orang tua sudah membayar jutaan rupiah untuk masuk pesantren ini. Bila saya keluar, maka akan merugikan orang tua. Ya, sesederhana itu pikiranku waktu itu.

Kemudian hari-hari terlewati begitu saja. Kelas 7, 8, 9 MTs. Jujur saja, bila melihat tiga tahun awal ini saya merasa belum menjadi apa-apa. Aku adalah remaja yang baru gede. Tertarik dengan segala hal yang berbau dunia remaja. Ya lawan jenis. Ya pertemanan. Hampir tidak ada yang istimewa. Sangat berbeda dengan pribadiku ketika Aliyah, dimana aku adalah seorang pribadi yang sangat visioner, haus pengetahuan, ambisius, dan penuh pencarian hakikat kehidupan. Kalaupun ada yang istimewa, mungkin adalah kegiatan “menyepi” ku untuk mengatasi kebosanan di asrama. Banyak diantara santri yang menghabiskan waktu luang dengan berolahraga. Bagiku olahraga menarik, tapi fasilitas olahraga di pondok sangat, sangat, sangatlah terbatas. Untuk ribuan santri, pada saat itu hanya ada satu lapangan basket dan satu lapangan kecil badminton (pada tahun-tahun terakhir di pondok, banyak fasilitas olahraga yang dibangun. Infastruktur pondok tumbuh signifikan dalam 5 tahun disebabkan oleh banyaknya bantuan dari berbagai pihak). Selain itu, aturan pondok sangatlah ketat dengan melarang segala macam benda elektronik. Sehingga solusi satu-satunya adalah mendatangi perpustakaan yang memang jarang dikunjungi pada jam-jam sore hari, dimana santri sebagian besar berolahraga.

Pada saat itu, dengan polosnya saya hampir membaca (atau setidaknya mungkin hanya meminjam) seluruh koleksi buku perpustakaan. Ya, karena seingat saya pada saat-saat tertentu saya merasa sangat bosan dengan buku-buku perpustakaan karena sudah saya ulik semua (tentu saja ‘membaca’ pada saat itu tidak sama dengan ‘membaca’ sekarang, yaitu berenang dalam ide-gagasan. Pada saat itu niat membaca saya hanya ingin membaca. Itu saja). Setidaknya ada dua pengaruh besar dari kegiatan tersebut. Pertama, buku-buku yang saya baca tidak hanya menjangkau buku-buku remaja, tetapi juga buku-buku pemikiran Islam yang tentu bertebal-tebal. Salah satu yang paling saya ingat adalah buku “Fitnah Kubro” yang diberi kata pengantar oleh Daud Rasyid. Mungkin secara isi tidak lagi bersemayam dalam pikiran, tetapi secara psikologis membuatku ramah terhadap buku-buku tebal. Yang tentunya sangat berjasa dalam kegiatanku saat ini. Kedua, membaca buku secara rutin dengan setiap minggu meminjam buku di perpustakaan membuat saya terbiasa menyelami begitu banyak wacana, ide, dan gagasan. Terasing dari wacana dan isu terbaru sangat menyiksa batinku. Sehingga sampai sekarang saya adalah orang yang sangat lapar terhadap ide dan gagasan. Terbukti, sampai saat ini koleksi saya (yang dimulai dari awal masuk universitas) lebih dari 200 judul buku. Semuanya menumpuk di rak kamar kos saya.

Saya masih begitu ingat salah satu kejadian lucu antara saya dan petugas perpustakaan. Waktu itu di siang hari sepulang KBM (kegiatan belajar-mengajar), seperti biasa saya berkunjung ke perpustakaan. Pulang sekolah, sholat dzuhur, dan makan siang biasanya selesei pukul 14.00. Waktu luang mungkin hanya satu jam saja, karena pada pukul 15.00 sudah harus persiapan sholat ashar berjamaah. Namun dalam waktu yang singkat tersebut saya sempatkan ke perpus yang agak lengang. Di saat perpustakaan akan tutup (setiap menjelang waktu sholat perpustakaan akan tutup) petugas mungkin tidak sadar bahwa masih ada orang disitu. Lalu dengan cueknya dia menutup dan mengunci pintu. Dengan setengah panik, saya berteriak dari jendela, “Pak masih ada orang pak!!!” seketika itu petugas itu kembali dan membukakan pintu untuk saya. Saya tidak habis pikir bisa terkunci di perpustakaan.

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya bahwa tiga tahun setelahnya hidupku berubah total. Dulu sewaktu MTs (terutama kelas 9 pasca UN) saya sering ikut kabur keluar pondok tanpa izin, pergi ke Cirebon, menginap di warnet, nonton bioskop, dan segala kebengalan anak pesantren waktu itu. Sampai-sampai aku mendapat Surat Peringatan (SP) 1, dimana bila sampai SP 4 maka akan dikeluarkan dari pondok. Saat itu aku dimarahi habis-habisan oleh orang tuaku. Dan pada saat itupun aku sadar harus berubah. Aku sadar pada saat itu aku adalah loser. Ketika kembali dari liburan panjang, aku ber-azzam dalam hati harus serius menuntut ilmu di pesantren ini. Untungnya, saya mendapat murobbi (semacam mentor dalam sistem pengkaderan PKS) yang bagus, dalam artian memberikan pondasi pergerakan dan keislaman yang kokoh.

Maka sedari itu aku serius dalam menjalani segala kegiatan di pesantren. Segala seleksi-seleksi saya ikuti karena semata-mata ingin belajar dari banyak hal. Namun tidak semuanya lancar, karena ada beberapa yang gagal dan itu sangat menyakitkan. Salah satunya adalah gagalnya aku menjadi pasukan khusus (Pasus) Kepanduan Husnul Khotimah yang waktu itu adalah salah satu tim paling populer di pondok. Santri-santri terbaik adalah anggota Pasus. Karena kegagalan tersebut saya akhirnya banting setir mendalami bahasa inggris. Bersama kawan terbaik saya (yang kini kuliah di FE Unpad) kami belajar bahasa inggris dengan tekun dan otodidak. Menempeli lemari pakaian dengan berbagai kosa kata (vocabs) inggris, ke warnet bareng untuk mencari lirik lagu dan kemudian menerjemahkannya, dll. Akhirnya saya bisa menjadi bagian dari pengajar bahasa (muharrik al-lughoh). Karir kebahasaan tersebut sangat berpengaruh di kemudian hari, terutama untuk karir organisasi di Organisasi Santri Husnul Khotimah (OSHK) yang memberiku amanah sebagai ketua divisi bidang bahasa, yang berperan sebagai “menteri de facto” untuk urusan kebahasaan santri. Tentu bukan jabatan biasa. Karena ini pula lah saya ditunjuk menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi Santri se-wilayah III Cirebon (Fokustic). Jelas Pondok Pesantren Husnul Khotimah sangat berjasa dalam pembentukan dalam diriku. Tidak terbayangkan bila saya tidak mendapat ilmu dan pengalaman begitu banyak ini.

Kritik

Ponpes Husnul Khotimah adalah pesantren yang luar biasa. Bukan hanya karena saya memang pernah berada di dalamnya, tetapi memang karena pesantren ini memiliki potensi luar biasa dalam memproduksi calon cendekiawan-cendekiawan berkualitas. Bukan hanya dalam hal kajian Islam, namun juga dalam hal ilmu non-agama. Tersedianya begitu banyak sumber daya manusia dan finansial adalah aset potensial. Sayangnya potensi tersebut tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Disinilah kritik saya akan bermuara.

Lingkungan ilmu pengetahuan modern menganut salah satu prinsip, yaitu kebebasan ilmiah. Dalam iklim kebebasan tersebut, dimana tidak ada satu pendapatpun yang meng-hegemoni (menyitir Gramsci) maka akan didapatkan suatu pengetahuan yang orisinil dan dinamis. Lepas dari berbagai doktrin-doktrin menyesatkan. Para ilmuwan adalah makhluk yang selalu ragu-ragu, menanamkan satu ruang skeptisisme dalam fikiran untuk menemukan kebenaran. Seorang ilmuwan haruslah siap dengan segala kemungkinan, pun kalau pendapat mereka yang selama ini mereka yakini terbukti salah. Salah satu pesantren yang mempunyai prinsip seperti ini adalah Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Tidak heran, alumninya sangat beragam. Dari yang sangat konservatif seperti KH. Kholil Ridwan sampai yang “liberal” seperti Nurcholish Madjid dan Novriantoni Kahar.

Dalam konteks Husnul Khotimah, kebebasan ilmiah ini tentu akan berbenturan dengan prinsip pesantren tarbiyah (pesantren yang mengusung dakwah Ikhwanul Muslimin di Mesir). Manhaj pelajaran agamanya saja memakai standar campuran, antara ikhwan dan wahabi. Seingat saya kitab fiqh yang digunakan adalah dari aktivis IM Mesir, Sayid Sabiq. Selebihnya kurikulum yang digunakan mengacu LIPIA Jakarta, seperti penggunaan kitab al-‘arobiyyatu li an-nasyiin.

Minimnya kebebasan ilmiah di Husnul Khotimah tidak saja berakibat pada dinamika intelektual santrinya, namun juga terhadap minat kajian ustadz maupun santrinya. Kegiatan yang populer di luar kegiatan belajar-mengajar, seingat saya tidak ada yang berbau diskusi-kajian apalagi yang berbau ilmiah. Kalaupun ada seminar, itu pun pasti bertema motivasi, sastra, jurnalistik, dll. yang sifatnya sekunder. Tidak ada budaya kajian yang berkembang di ponpes Husnul Khotimah. Tidak ada tradisi kajian selayaknya pesantren NU yang mempunyai tradisi bahtsul masail. Kalaupun saya menikmati sedikit kajian tentang pemikiran Islam, maka itupun hanya diberikan bagi para santri tahun terakhir. Sifatnya pun bukan kajian yang menjunjung skeptisisme, tapi hanya sekedar pembekalan. Temanya pun masih di sekitar pergerakan tarbiyah. Saya masih ingat ketika ada pembekalan dari salah satu ustadz senior (pernah menjadi anggota DPRD Kuningan 2004-2009 F-PKS ) tentang perbandingan gerakan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir. Dan jelas saja, ustadz tersebut dengan berat sebelah membenarkan segala pergerakan Ikhwanul Muslimin. Tanpa ada sedikit pun argumen kontra dari pihak HT.

Sewaktu masih di pondok saya pernah berbincang dengan salah seorang ustadz yang agak nyeleneh. Nyelenehnya bukan karena liberal, tapi karena sering membuat geger sepondok. Ustadz yang juga alumni angkatan pertama ini pernah menjadi pengikut aliran (yang katanya waktu itu) sesat. Walaupun begitu, dia lulusan Madinah University. Banyak yang mengira dia mengalami gangguan kejiwaan. Tapi ketika saya mengetuai kebahasaan pondok, beliau dijadikan salah satu pembina yang membidani bahasa Arab.

Suatu malam kita berbincang sampai larut membahas tentang kegelisahannya mengenai pesantren yang semakin dicampuri unsur-unsur PKS. Menurutnya, masuknya politik ke pondok saat itu semakin membuat kehidupan pesantren tidak sehat. Harusnya, menurut dia pesantren harus dibersihkan dari unsur-unsur aliran, pun PKS sebagai paham dominan asatidz disana. Pesantren haruslah mengikuti kebebasan ilmiah seperti yang digunakan oleh Gontor. Dasar-dasar keilmuan Islam memang harus diajarkan, namun afiliasi terhadap pilihan aliran keislaman haruslah diberikan pilihan seluas-luasnya kepada para santri sendiri. Tidak perlu diarah-arahkan agar mengikuti suatu aliran Islam. Yang penting, dasar-dasar Islam sudah diajarkan. Kalau perlu, menurut beliau harus diajarkan semua aliran keislaman. Tidak hanya satu saja.

Ponpes Husnul Khotimah adalah pesantren yang mempunyai potensi luar biasa. Pesantren ini unggul dalam melatih santri sebagai organisatoris-aktivis. Pesantren ini juga unggul dalam melatih santri agar menjadi penghafal Al-Quran. Pesantren ini mempunyai ustadz-ustadz yang unggul dalam ilmu-ilmu keislaman dan bahasa Arab. Namun pesantren ini mempunyai cacat-cacat kecil, yang tidak terlihat namun sesungguhnya berbahaya bila sudah infeksi. Keterbukaan fikiran dan kebebasan ilmiah adalah prasyarat masyarakat modern. Harusnya Husnul Khotimah bisa mengatasi “cacat” ini.

Tapi, bagaimanapun saya bangga pernah menjadi bagian dari Ponpes Husnul Khotimah…

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Pesantren. Tandai permalink.

8 Balasan ke Sejumlah Kenangan dan Kritik Terhadap (Bekas) Almamater

  1. nana berkata:

    waw kalo di baca orang luar keren ya kak?

  2. wardoyo berkata:

    Bismillah, manhaj manakah yang dekat dg kebenaran? Ketika semua pemikran dibiarkan bebas, jiwa2 kerdil n lemah pasti tersambar. Semakin jauh dari manhaj salaf.

  3. hadi berkata:

    Bismillahirrahmaanirrahiim,terkadang setiap jiwa manusia memang sangat menginginkan kebebasan dan juga fitrah manusia ingin mencari kebenaran,Alloh SWT sdh memberikan kebebasan kpd manusia utk mencari kebenaran tsb tetapi apakah manusia yg menggunakan kebebasan sebebas2nya akan mendapatkan kebenaran?kenyataannya banyak yg justru tersesat,oleh karena itulah kebebasan tetap hrs diarahkan kpd kebenaran.

  4. abidahardelia09 berkata:

    semoga saya juga dapat betah di ponpes sana, karena saya akan masuk ponpes sana🙂

    • Abu Zahra berkata:

      Yakinlah, awalnya pasti ngga betah adalah proses awal, harus di betah betahkan nak,…..yakinlah HK adalah pesantren yang baik,… satu Anakku telah lulus 2 tahun lalu, dan Alhamdulillah menjadi orang baik dan punya prestasi, satu lagi anakku akan segera masuk masuk dan InsyaAlloh menjadi temanmu Nak,…selamat menempuh jalan baru !!!!

  5. Arianna berkata:

    PonPes yang sangat bagus🙂

  6. gamaparfum berkata:

    rindu pesantrenkku hk 68

  7. Firdaus Bach berkata:

    kebebasan ilmiah adalah suatu keniscayaan yang harus diberikan kepada semua santri pada saat yang tepat, dalam hal ini kesiapan santri untruk menerima kebebasan itulah yang menjadi kekhawatiran, usia-usia Tsanawiyah dan Aliyah yang labil belum akan siap menerima berbagai macam aliran pemikiran, untuk masuk dunia kebasan ilmiah terutama cabang pemikiran dibutuhkan basic yang kuat, sehingga walaupun terjadi tarik menarik masalah pemikiran tidak akan terpengaruh, membuka terlalu lebar kebebasan ilmiah apalagi pada cabang-cabang aliran pemikiran sangat gambling dan mengkhawatirkan, saya pribadi sangat merasakan dampak dari berkutat dengan berbagai aliran pemikiran dan faham-faham yang ada, tahun-tahun terakhir saya SMA faham-faham sosialis dan aliran-aliran pemikiran kiri sangat kuat menguasai saya sampai saya bersentuhan dengan tarbiyah yang menyelamatkan saya, sampai sekarang pun saya masih berkutat dengan berbagai macam aliran pemikiran dan faham yang ada, bahkan tapi dengan bekal dan basic yang sudah cukup kuat alhamdulillah bisa menjadi bekal menjaga diri anak SMA dan Mahasiswa baru yang menjadi sahabat-sahabatku sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s