Perihal Perubahan

Perubahan. Mungkin kata itu terlalu umum dan familiar di telinga kita. Semua orang berkata perubahan. Hingar-bingar pilkada di ibu kota akhir-akhir ini semakin sering didengungkan oleh para kandidat. Perubahan dikenal sebagai kata yang ajaib, karena didalamnya lah hampir selalu ada adagium evolusi keburukan menjadi kebaikan. Perubahan adalah sebuah kata yang menandakan perkembangan, dinamis dan tidak statis. Perubahan, layaknya mengalirnya air adalah sebuah bentuk kehidupan manusia yang normal. Perubahan bisa terjadi oleh dan melalui apa saja. Bahkan banyak yang mengatakan perubahan adalah suatu keniscayaan. Transformasi akan kualitas hidup manusia selalu berubah, baik secara pemikiran dan nilai bila manusia tersebut benar-benar hidup.

Begitu juga denganku. Hampir dua tahun saya lulus dari pesantren yang membentuk pribadi seorang santri. Saya lulus membawa segepok nilai-nilai yang indah dan absolut titian juru selamat. Walaupun di akhir peraduan tersebut, mulai ada benih-benih keraguan yang terkumpul. Pencarian akan kebenaran belum selesai, bahkan baru saja melewati sedikit gerbangnya.

Genap enam tahun saya ‘nyantri’ di pesantren yang berhaluan Ikhwan-Wahabi. Harus diakui disanalah saya pertama kali mendalami ilmu agama secara menyeluruh. Disanalah juga saya mendapatkan ilmu tentang kehidupan. Pengalaman hidup yang tak akan tergantikan tentang arti suatu kemandirian, baik secara mental dan pemikiran. Waktu yang panjang dan sangat cukup untuk membentuk pribadi-pribadi yang sesuai dengan agenda yang ingin dicapai oleh para pengurus pesantren.

Dan sekarang saya akui bahwa secara pemikiran, saya sudah jauh berbeda dari dua tahun yang lalu ketika baru saja lulus dari pesantren. Dibandingkan dulu pemikiran saya kini jauh lebih rasional dan progressif. Dalam memahami teks-teks agama tidak lagi literal, namun cenderung memahaminya secara substansif atau sesuai maqashid syariah.

Sebenarnya perubahan dari ekstrem kanan menjadi ekstrem kiri atau sebaliknya sudah sering terjadi oleh tokoh-tokoh terkenal di dunia dalam spesialisasi pemikirannya masing-masing. Biasa, bahkan sebetulnya sangat biasa.

Dalam hal ekonomi makro misalnya, siapa yang tidak kenal Joseph Stiglitz, seorang teknokrat ekonomi Amerika Serikat yang lama berkiprah di IMF dan World Bank. Stiglitz mengejutkan dunia ketika dia membuat buku “Globalization and Its Discontents” (2002) yang mengkritik secara serius Globalisasi, terutama pada liberalisasi ekonomi yang menurutnya sudah kebablasan. Kritikan seperti ini bukan datang dari seorang ‘marxist’, namun dari seorang yang lama dan tumbuh di tempat munculnya gagasan globalisasi itu sendiri.

Atau misalnya Francis Fukuyama, sang pendendang kemenangan liberalisme dan kapitalisme yang terkenal dengan buku legendaris“The End Of History And The Last Man” (1992). Baru-baru ini dia menulis artikel di jurnal Foreign Affairs yang menjelaskan bahwa kemapanan liberalisme dan kapitalisme kini sedang terancam. Dia mengulik data statistik ekonomi untuk menjelaskan kecenderungan tersebut, diantaranya adalah tentang menurunnya kelas menengah di berbagai negara termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Walaupun artikel ini banyak dikritik karena tidak mempunyai argumen yang kokoh, namun perubahan pendapat ini sempat mendapatkan kajian kritis di berbagai tempat, termasuk di Freedom Institute.

Tidak berbeda, Nurcholish Madjid atau Cak Nur pun mengalami masa dimana transformasi gagasan dan ide. Pada tahun 60-an, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terbagi dua kubu dalam hal merespon wacana modernisasi. Kubu pertama adalah kubu “liberal” dipimpin oleh Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, dan Djohan Effendi yang tergabung di HMI Jogja. Kubu ini beranggapan bahwa Islam seharusnya melakukan pembaharuan keagamaan dalam rangka menyesuaikan dengan modernisasi. Kubu kedua adalah kubu reaksioner-islamis, yang dipimpin oleh HMI Bandung seperti Endang Saifuddin Anshari dan Miftah Faridl (yang kini menjabat ketua MUI Bandung). Kubu kedua ini lebih mementingkan masalah persatuan umat dibanding kegiatan pembaharuan, yang dianggap malah akan memecah belah umat. Nah, pada saat itu Cak Nur sebagai ketua umum PB HMI menjadi kubu yang “moderat” sekaligus menengahi polemik dua kubu tersebut.

Namun pada akhir tahun 60-an, Cak Nur menerbitkan makalah yang berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” yang diterbitkan dalam suatu seminar gabungan HMI, PII, dll. Dengan ditulisnya makalah tersebut, Cak Nur menegaskan keberpihakannya kepada kubu liberal bersama Djohan Effendi dan Ahmad Wahib. Padahal sebelumnya, kubu reaksioner-islamis sudah memenangi pertarungan dengan mengundurkan dirinya Ahmad Wahib dan Djohan Effendi dari keanggotaan HMI.

Setidaknya ada dua faktor berubahnya pemikiran Cak Nur dari moderat (dalam arti penengah) menjadi liberal yang mendorong pembaharuan Islam. Selain dari diskursus pemikiran dan bacaan, ada peristiwa penting yang menjadi titik tolak perubahan tersebut yaitu ketika Cak Nur mengunjungi negara-negara Arab pada tahun 1965 dan melihat realitas umat Islam disana. Hal ini diakui oleh salah satu pemikir liberal lainnya seperti Ahmad Wahib dalam catatan hariannya yang dibukukan “Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib” (1981), bahwa kunjungan lamanya ke hampir semua negara Arab tersebut merubah total paradigma berpikir Cak Nur. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa realitas umat Islam kini sangat jauh dari nilai-nilai Islam yang sejati.

Lalu ada Rizal Mallarangeng, “nabi” nya kaum liberal Indonesia yang juga pendiri Freedom Institute. Berbeda dari pemikiran Stiglitz yang bergerak ke “kiri”, Rizal sebaliknya dari “kiri” menjadi “kanan”. Sewaktu dia kuliah di UGM, Rizal adalah aktivis kiri yang progresif. Rizal adalah murid pemikiran dan pergerakan dari tokoh-tokoh kiri seperti Arief Budiman, Sudjatmoko, Romo Mangun, Umar Khayam, dll. Namun seiring berjalannya perkembangan wacana pemikiran, terjadilah apa yang disebut transformasi pemikiran. Dalam bukunya “Mendobrak Sentralisme Ekonomi” (2008) dia mengaku bahwa sejak terjadi reformasi politik-ekonomi di Uni Soviet pada tahun 80-an atau yang dikenal sebagai kebijakan glasnost-perestroika, dia mulai skeptis terhadap gagasan marxisme-sosialisme. Namun dia juga mengaku bahwa genealogi pemikiran liberalnya sudah dimulai sebelum itu, ketika dia sudah mulai membaca karya-karya anti-mainstream dari Hayek, Milton Friedman, Von Mises, dll.

Namun yang fenomenal tentunya adalah santri “liberal” NU yaitu Ulil Absar Abdalla. Ulil adalah santri dari kyai sepuh NU, kyai Sahal Mahfud. Ulil pernah kuliah di kampus wahabi Indonesia, Lipia. Namun karena pergulatan pemikiran yang dialaminya, ia menjadi salah satu tokoh pengusung Liberal Islam di Indonesia. Transformasi serius yang dia lakukan diperlihatkan oleh perkataannya dalam suatu diskusi, “inni tubtu minal wahabi” yang berarti “saya sudah bertobat sepenuhnya dari (paham) wahabi”.

Dan juga masih banyak tokoh-tokoh pemikir dunia yang mengalami transformasi ide dan gagasan. Dalam rangka menyemai gaagsan kemajuan (idea of progress), perubahan menjadi suatu konsekuensi yang harus dijalani oleh umat manusia, termasuk umat Islam. Mengutip Cak Nur, sikap reaksioner menolak perubahan adalah bentuk pesimisme terhadap sejarah. Perubahan sebagai progress adalah proses menuju peradaban. Karena sebuah kemajuan hanya bisa dicapai dalam keberanian untuk berubah.

Genealogi Pemikiran

Pemikiran saya yang kritis, rasional, dan progressif ternyata mempunyai akar dan embrio ketika dulu menuntut ilmu di pesantren. Hal-hal rasional dan progressif yang terkadang dianggap ‘nyeleneh’, pernah diajarkan oleh salah satu ustadz (semua guru di pesantren kami dipanggil ustadz, walaupun bukan guru agama) yang juga dikenal agak nyeleneh.

Namanya Ustadz Suhana, tapi sering dipanggil Pak Nana. Mungkin dia satu-satunya ustadz yang berpikir rasional, sering membaca buku-buku filsafat dan tentu saja tidak seperti kebanyakan asatidz, dia tidak bergabung dengan PKS. Bahkan ia sering mencibir asatidz karena pembicaraan mereka tak lebih dari kehidupan pragmatis dan duniawi, tidak mencapai tataran filosofis dan jangka panjang. Pak Nana ini orangnya nyentrik. Walaupun telah berumur mungkin lebih dari 60 tahun, tapi dari rumahnya ke pesantren kami yang jaraknya mungkin 1 KM lebih hanya berjalan kaki, tanpa kendaraan. Di pesantren kami, dia mengajarkan bahasa Indonesia. Salah satu kelebihan Pak Nana adalah kemampuannya dalam menyampaikan sesuatu dengan lucu dan menyenangkan. Seakan-akan hal yang disampaikan bukanlah sesuatu yang berat.

Awal dia menanamkan hal yang agak ‘nyeleneh’ dari mainstream pada kelas 1 Aliyah. Pada saat itu pelajaran Pak Nana mendapatkan jadwal pagi hari pada jam pelajaran kedua setelah pelajaran tahfidz Al-Quran. Pada saat itu Pak Nana belum dikenal sebagai orang yang mempunyai pandangan-pandangan kontroversial, sehingga kelasnya dianggap membosankan. Namun pagi itu menjadi berbeda, ketika saya memutuskan memperhatikan penjelasannya.

Dia berkata bahwa dalam beragama, orang-orang kok takut sekali berpikir. Dalam arti berpikir yang menembus batas-batas keagamaan. Dia pada saat itu mengibaratkan seperti orang yang ingin menyebrang jalan tetapi terlalu takut tertabrak, yang akhirnya tidak jadi menyebrang. Dia juga mengkritik orang yang hanya “menaruh mushaf Al-Quran di atas kepala, bukan di dalam kepalanya”. Ini mengkritik kebiasaan di pondok kami yang selalu menggenjot para santri untuk menghafal Al-Quran. Bahkan ia pernah mengejek kebiasaan orang Indonesia yang masih percaya dengan bentuk hantu dan mitos lainnya. Dan di tahun terakhir saya di pondok, dia memberi tahu tentang pemikirannya dengan nama “Spiral: Studi Pemikiran Islam Rasional”.

Selain itu banyak lagi pemikirannya yang menjadi pondasi pemikiran yang saya sekarang geluti. Hal-hal lainnya mungkin akan saya jelaskan dalam tulisan yang khusus membahas pak Nana. Namun poin saya adalah pondasi pemikiran saya saat ini, termasuk keingintahuan yang besar salah satunya adalah berkat kontribusi pemikiran Pak Nana selama 3 tahun. Bila bukan karena Pak Nana, bukan mustahil bahwa saya kurang meminati selain yang sudah dipelajari di pesantren.

Tesis diatas juga setidaknya membantah bahwa perubahan pemikiran saya disebabkan oleh lingkungan kampus sekarang dimana saya belajar. Kampus bukan faktor yang dominan dalam transformasi pemikiran saya dalam sosial-keagamaan, apalagi saya tidak mengambil major filsafat keagamaan secara khusus. Transformasi yang terjadi dalam hidup saya hanyalah dinamika kecil kehidupan. Dalam usaha mencari kebenaran sejati.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Pesantren, Pribadi Gelisah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Perihal Perubahan

  1. milliyya berkata:

    Hai kamu lelaki…

    Selamat memasuki jenjang-proses-perubahan pemikiran. Gagasan. Barangkali semacam menemui jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s