Freedom: Lebih Dekat Dari Urat Nadi

Yang akan saya tulis tidak se-“seram” judulnya. Saya hanya ingin melakukan refleksi kehidupan dengan mengambil tema tertentu untuk diangkat. Dan yang akan saya tulis sekarang adalah mengenai pemikiran yang sedang saya geluti kali ini: liberalisme. Kata-kata “liberal” kini menjadi komoditas yang sering dibahas oleh masyarakat Indonesia tanpa rujukan yang benar. Liberal dijadikan kata yang najis dan kotor yang diungkapkan oleh kelompok tertentu kepada kelompok lainnya. Liberal penuh dengan stigma negatif sehingga difatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saya sendiri bingung, apakah kelompok-kelompok tersebut, termasuk MUI membaca karya-karya John Stuart Mill, Adam Smith, John Locke, Immanuel Kant, Karl Popper, Von Mises, Hayek sampai Milton Friedman untuk tau apa itu liberalisme. Namun saya menduga, mereka masih terlalu tertutup untuk menerima gagasan dari luar kelompok mereka. Dalam bahasa lainnya adalah konservativisme. Namun faktor lain mungkin saja ada, misalnya faktor politis. Stigmatisasi terhadap kelompor tertentu untuk menjatuhkan sangat mungkin dilakukan dengan menggunakan kata-kata asing seperti “liberal”, “komunis”, dan sebagainya. Liberalisme juga sering di-asosiasikan dengan Islam Liberal, yang sebenarnya agak berbeda dengan paham liberalisme itu sendiri.

Lalu apakah liberalisme itu?

Saya disini tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai liberalisme. Intinya, liberalisme adalah paham yang mengakui kebebasan individu (individual liberty). Maksudnya adalah setiap individu dalam masyarakat diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan sesuatu. Kenapa? Karena liberal percaya bahwa manusia adalah makhluk otonom, yang mempunyai akal dan pikiran untuk menentukan yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Dengan kebebasan, individu bisa lebih kreatif dan inovatif dalam melakukan hal karena tidak terbelenggu dengan kolektivitas. Kalaupun dengan kebebasannya dilakukan untuk melakukan keburukan, dalam pandangan liberal itu merupakan haknya dia dan juga merupakan suatu pendewasaan. Batasan dari kebebasannya adalah kebebasan orang lain. Bila apa yang dia lakukan tidak mengganggu kebebasan orang lain, maka dia boleh melakukan apapun.

Saya tidak ingin menceritakan bagaimana liberalisme menginspirasi kebijakan publik maupun pemikiran lain sehingga mencapai kemajuan peradaban seperti yang sekarang diraih oleh barat. Namun saya hanya ingin mengingat-ingat sekaligus refleksi tentang arti “kebebasan” dalam hidup saya. Yang ternyata kebebasan sangat dekat, lebih dekat dari urat nadi.

Selama enam tahun di pondok, masa-masa terbaik dan terindah adalah dua tahun terakhir. Ya, dua tahun terakhir adalah kelas 11 dan 12 aliyah. Pesantren saya dalam kepengurusan teknis, diurus oleh santri-santri senior. Sehingga santri kelas 11 aliyah akan diangkat sebagai “kepanjangan tangan” dari para ustadz sebagai Organisasi Santri Husnul Khotimah (OSHK) selama satu tahun.  Dan ketika seorang santri menjadi pengurus, akan mendapatkan privilege dalam hal kebebasan di pondok, karena yang mengurus segala hal di pondok adalah santri senior kelas 11. Kelas 12 yang notabene adalah santri paling senior difokuskan untuk bersiap untuk Ujian Nasional (UN) dan ujian masuk universitas. Dan tak mungkin kelas 11 mengurusi seniornya. Sehingga otomatis kelas 11 dan 12 aliyah mempunyai kebebasan dalam arti tidak disuruh-suruh ke masjid, untuk ikut acara pondok, olahraga, dst.

Dan jujur buat saya pribadi, dua tahun terakhir tersebut adalah tahun terbaik dalam enam tahun di pesantren. Saya bebas mengekspresikan berbagai hal yang menjadi minat dan passion saya. Saya menulis banyak hal di blog dan artikel yang dimuat di majalah Islam Sabili. Selain itu, saya berhasil merampungkan tasmi’ 5 juz Al-Quran dan Hadits Arba’in Nawawi dalam dua bulan saja. Saya bisa fokus untuk belajar berbagai mata pelajaran ujian nanti. Dan yang terpenting, ibadah yang saya lakukan terasa lebih ikhlas karena dilakukan tanpa paksaan dan suruhan. Bahkan ketika tahun terakhir di pesantren, hampir setiap malam saya mabit di masjid dan tahajud sepertiga malam. Semua saya lakukan tanpa paksaan. Kebebasan merupakan berkah yang positif. Waktu yang diatur diri sendiri yang otonom jauh lebih efisien dan efektif daripada diatur-atur oleh orang lain.

Tentunya hal diatas adalah contoh kecil dari filsafat kebebasan (freedom). Masih banyak lagi contoh bagaimana peradaban Islam dan (kemudian) Eropa meraih peradaban yang maju berkat kebebasan berpikir, berpendapat, dan berekspresi. Dan seperti yang saya kemukakan dalam judul diatas, bahwa ternyata kebebasan ada di sekitar kita bahkan lebih dekat dari urat nadi. Bagaimana dengan anda?

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Pesantren. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s