Menulis Postmodernisme

Gagasan besar sangat sulit untuk digambarkan hanya dengan satu, dua kalimat. Suatu gagasan besar butuh berbuku-buku yang jilidnya tak mungkin sedikit. Era pencerahan (enlightment) di Eropa yang dijadikan suatu acuan kebangkitan modernitas umat manusia, butuh beberapa abad dalam menulis ulang dalam usaha mengkonseptualisasikan sebuah gagasan besar yang dinamakan modernitas. Demokrasi, yang menjadi nilai universal manusia saat ini sebagai anak-cucu pencerahan, butuh berabad-abad untuk menjadi mapan dalam tataran ide. Filsafat kebebasan ala John Locke hingga riset mikro yang dilakukan oleh Alexis De Tocqueville, adalah sepotong jalan panjang yang dilalui untuk memapankan suatu gagasan tentang demokrasi. Tidak berbeda dengan demokrasi, hal ini pun berlaku dengan postmodernisme. Walaupun analogi “gagasan” yang penulis lakukan terkesan memaksakan, dengan membandingkan dua gagasan yang jelas-jelas sebagai antitesa. Bahkan, metodologi yang penulis gunakan, bisa saja didekonstruksi oleh postmodernisme yang menolak secara tegas universalisasi. Terlepas dari paradoks tersebut, penulis berusaha ingin menulis postmodernisme dari tinjauan sejarah dan teoritikusnya, baik postmodernisme secara umum dan hubungan internasional. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan postmodernisme itu terlalu sulit dan hampir mustahil. Karena teoritikus postmodernisme masing-masing punya cara sendiri dalam memahami postmodernisme.

Kemunculannya

Tidak ada yang bersepakat kapan munculnya postmodernisme. Namun bila ditarik ke era pencerahan, maka jejak-jejak postmodernisme sudah bisa ditemukan dalam pemikiran para filosof yang mengkritik modernisme yang diagung-agungkan pada masa tersebut. Sebutlah Nietzsche (1844-1900) yang disebut banyak memberikan sumbangsih bagi terbentuknya postmodernisme. Di tengah hingar bingar pencerahan yang mengagungkan rasionalitas, Nietzsche sudah melecehkan apa yang selama ini disebut rasio. Nietzsche meramalkan bahwa manusia akan hangus oleh rajutannya sendiri, bila tidak mencabik-cabik rajutan dan melakukan apa Umwerhung aller Werte. Di tengah-tengah kepercayaan pencerahan bahwa modernitas akan membawa kemajuan (progress), Nietzsche sudah mengatakan bahwa dunia dan kehidupan ini sama sekali tanpa kemajuan. Pemikiran yang mengkritik modernisme juga mengkritik seputar universalisasi pemikiran western, dimana ini dimulai ketika terjadi sekulerisasi yang dimulai pada Perjanjian Westphalia 1648 yang menjadi awal mulanya sistem negara-bangsa (nation-state). Selain itu, pemikiran western rationality juga tidak lepada dari banyak kritikan yang dianggap cenderung terlalu maskulin.

Jacques Derrida (1930-2004) adalah salah satu tokoh postmodernisme yang mengenalkan cara berpikir dekonstruksi. Banyak yang menyebut Derrida terpengaruh oleh pemikiran Nietzsche setidaknya dalam dua hal: kritik atas metafisika dan kecurigaan atas kebenaran dan makna. Dalam bukunya “Of Grammatology”, Derrida mengkritik adanya oposisi biner (Binary Opposition) yang selalu memberikan dikotomisasi dalam segala hal. Adanya dikotomi baik/buruk, makna/bentuk, jiwa/badan, transendental/imanen, maskulin/feminin, benar/salah, lisan/tulisan, dan sebagainya. Dikotomisasi seperti ini pada akhirnya akan memunculkan hirarki, yang menjadikan satu diatas dari yang lain. Misalnya, maskulin lebih baik dari feminim, lisan lebih baik dari tulisan, dan sebagainya. Oleh karena itu menurut Derrida, yang harus dilakukan adalah pembalikan (inverse). Maksudnya, segala sesuatu dalam dekonstruksi harus dianggap satu. Tidak ada lagi oposis biner yang memisah-misahkan.

Dekonstruksi Derrida ini cukup luas dalam mempengaruhi beberapa disiplin ilmu pengetahuan. Filsafat Islam pun tidak lepas dari pengaruh dekonstruksi Derrida ini. Walaupun tidak banyak yang mengkaitkan secara serius dekonstruksi dan Islam, setidaknya Mohammad Arkoun dan Hassan Hanafi ikut terpengaruh postmodernisme Derrida. Arkoun yang mendalami Islam di Prancis, banyak terpengaruh Derrida dalam usahanya untuk menafsirkan Al-Quran. Keluasan pengaruh postmodernisme ini juga mempengaruhi dinamika ilmu hubungan internasional (HI). Sebagai disiplin ilmu yang terbuka, banyak teoritikus HI yang ikut mencoba menganalisis berbagai peristiwa internasional dengan metode dekonstruksi.

Filosof postmodern lainnya adalah Michel Foucalt (1926-1984). Ia secara khusus membahas tentang kegilaan untuk membongkar modernitas. Dalam bukunya “Discipline and Punish” Foucalt menjelaskan tentang pembentukan masyarakat disiplin (disciplinary society) akibat modernitas. Ada pembentukan kedisiplinan bagi yang “abnormal” agar menjadi “normal”. Maka dari itu masyarakat modern membentuk alat sosial (social command) untuk mengubah yang “abnormal” agar sesuai dengan sistem yaitu: Aparat, institusi, dan hukuman.

Postmodernisme dan Hubungan Internasional

Dalam debat teorisasi HI, terdapat perdebatan yang dilakukan dalam ruang epistemologis-metodologis, antara reflectivis versus rasionalis. Rasionalis yang ber-epistemologi positivis, melawan reflectivis yang bermetodologi post-positivis. Dalam hal epistemologi ini sangat bertentangan, karena positivis mengandaikan bahwa ilmu HI seperti ilmu alam, bisa dibuktikan secara empiris dan berlaku universal. Sedangkan post-positivis menyatakan sebaliknya, ilmu HI bersifat partikular. Postmodernisme adalah salah satu pemikiran postpositivis.

Salah satu teoritikus HI yang menggunakan dekonstruksi sebagai analisis adalah RJB Walker. Dalam bukunya “Inside/Outside” Walker mengkritik kedaulatan (sovereignity) dalam HI. Dengan menggunakan dekonstruksi, Walker membongkar dikotomi yang selama ini dianut dalam ilmu HI. Dua dikotomi yang diangkat oleh Walker salah satunya adalah persoalan domestik dan internasional. Selama ini persoalan domestik oleh beberapa negara dianggap sebagai wilayah yang teratur (order) sedangkan internasional adalah wilayah yang anarki (anarchy). Sehingga, beberapa negara ada yang dalam negerinya aman dan makmur, tapi agresif di luar negeri. Dikotomi lainnya adalah tentang pemisahan politik dan politik internasional dalam ilmu HI. Hal ini menjadi kritik Walker karena kedua ilmu ini seakan-akan terpisahkan.

Teoritikus lainnya adalah James Der Derian yang banyak menulis analisis HI menggunakan postmodernisme sebagai dasar analisis. Melalu buku-bukunya “On Diplomacy: A Genealogy of Western Estrangement” dan “Antidiplomacy: Spies, Terror, Speed, and War menerangkan beberapa hal tentang power. Pertama, yaitu dalam era dunia informasi sekarang terjadi surveillance atau mengawasi tanpa tau diawasi. Hal ini sudah menjadi hal yang lumrah. Bahwa power dalam era sekarang ini bukan lagi sekedar senjata dan militer, tapi adanya surveillance. Kedua, adanya perubahan dari space yang menyangkut geopolitik menjadi pace yang menyangkut chronopolitics atau kecepatan. Ketiga, yaitu simulasi yang menghilangkan realitas yang sebenarnya (hiper-realitas). Simulasi ini, Derian mengutip dari Jean Baudrillard.

Namun bagaimanapun postmodern pada akhirnya mengalami dilema yang unik. Penulis menilai dilema ini unik karena berbeda dengan ideologi maupun teori yang lain. Postmodern hanya bisa untuk membongkar dan menghancurkan suatu teori atau pemahaman, namun tidak bisa menghasilkan suatu pemahaman baru. Karena ketika dia menjadi pemahaman baru, maka ia menjadi “modern” yang selama ini dikritik. Baylis-Smith dalam bukunya “Globalization and World Poltics” mengatakan bahwa Derrida menyatakan bahwa tidak ada satupun teori yang bisa mengklaim sebagai kebenaran. Sehingga, pemikiran postmodernisme diserang oleh kelompok pemikiran positivis dan dianggap sebagai pemikiran yang tidak bisa berdamai dengan real politics. Hal ini jelas ditolak oleh kelompok postmodernisme karena yang dimaksud “riil” pun sesungguhnya tidak ada, karena itu hanya bentuk interpretasi kita saja.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Filsafat Politik. Tandai permalink.

3 Balasan ke Menulis Postmodernisme

  1. Jack O'Reilly berkata:

    Artikel ini terlalu menggunakan bahasa besar, tapi esensinya kosong. Seninya itu adalah bagaimana menggunakan kata-kata simpel agar sebuah ide gampang untuk dimengerti.

  2. sohibul_qorib@yahoo.com berkata:

    referensinya dituls dunk,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s