Menakar Internasional Criminal Court: Perjuangan, Prestasi, dan Dilema

Film “The Reckoning: The battle for International Criminal Court” (2009) adalah film dokumenter garapan Pamela Yates dan dirilis oleh Skylight Pictures. Film ini menceritakan tentang perjuangan International Criminal Court (ICC) dalam usahanya menyeret dan mengadili penjahat kemanusiaan di berbagai negara ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Film ini lebih khusus menyoroti kiprah ICC dalam menangani kejahatan kemanusiaan (atrocities) yang terjadi di Kongo, Kolombia, Uganda, dan Sudan. Film ini pernah mendapatkan nominasi “Sundance Film Festival” dan “Film Festival”. ICC sendiri adalah lembaga peradilan internasional pertama yang didirikan berdasarkan statuta Roma yang khusus memberi perhatian kepada genosida, kejahatan perang, dan kejahatan kemanusiaan. Lembaga ini juga adalah lembaga independen dan tidak terikat sama sekali dengan sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Film ini diawali dengan adegan yang cukup mengaduk emosional dengan ditemukannya tulang-belulang manusia hasil genosida di sebuah negara di Afrika. Hal ini sangat menyentak empati manusia ditambah dengan pengakuan masyarakat di daerah tersebut bahwa mereka sangat mengharapkan adanya keadilan dan hukuman bagi pelaku kejahatan tersebut agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Kemudian dalam film tersebut digambarkan bahwa dibentuknya ICC adalah salah satu cara untuk mencegah terulangnya kejahatan seperti ini dengan mengadili pelakunya. Masyarakat internasional memang baru sadar tentang bahaya kejahatan kemanusiaan ketika Nazi, Jerman melakukan genosida pada perang dunia II tahun 1945. Pada saat itu terbentuklah pengadilan Nuremberg (Nuremberg tribunal) untuk mengadili kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman. Dalam film tersebut salah satu jaksa Nuremberg mengatakan bahwa Nuremberg diharapkan bisa menjadi landasan dalam mengadili pelaku genosida dan kejahatan kemanusiaan yang lain. Menurutnya juga, tidak ada satupun manusia yang kebal terhadap hukum.

Namun kejahatan kemanusiaan tidak berhenti disitu. Film ini kembali mengaduk-aduk emosi penonton dengan menjabarkan angka statistik korban kejahatan kemanusiaan di berbagai negara. Di Guatemala korban tewas mencapai 200.000. Di Kamboja mencapai 1,7 juta korban tewas. Di Kurdistan mencapai 150.000. Di Sierra-Leone dan Liberia mencapai 250.000 korban tewas. Di Bosnia-Herzegovina korban mencapai 200.000 orang tewas. Di Rwanda korban mencapai 800.000 orang tewas.

Namun harapan ternyata masih ada. Pada 1998 di Roma lewat persaingan voting yang ketat, disahkannya statuta Roma sebagai konstitusi dasar ICC. Menurut Ben Ferencz, pada saat itu suasana terasa sangat membahagiakan. Karena pertama kalinya dalam sejarah umat manusia setelah Nuremberg, dunia mempunyai pengadilan internasional untuk mengadili pelaku kejahatan kemanusiaan. Dan pada 2002, ICC resmi didirikan. Film ini menggambarkan bahwa ICC adalah salah satu harapan umat manusia dalam memerangi kejahatan kemanusiaan. 66 negara ikut meratifikasi statuta tersebut, kecuali beberapa negara termasuk Amerika Serikat (AS), Rusia, dan China.

ICC memulai cerita perjuangannya di Uganda. Dalam hukum internasional, khususnya persoalan menghukum pelaku kejahatan kemanusiaan, maka persoalan ketidak-mauan (unwilling) dan ketidak-mampuan (unable) menjadi penting. Negara yang tidak mau menghukum pelaku kejahatan kemanusiaan, maka bisa saja suatu saat pelaku ditangkap di negara lain. Bila negara tidak mampu, maka bisa meminta ICC untuk mengadili sang pelaku tersebut. Uganda dalam hal ini adalah negara yang tidak mampu. Dalam film tersebut ICC memperlihatkan beberapa gambar tentang kekejaman di Uganda, yang sekali lagi, mengaduk-aduk emosi penonton. Pada 2004 ICC memulai investigasinya di Uganda Utara untuk mengetahui kejahatan perang yang terjadi antara pemerintah dan kelompok pemberontak, LRA. Dalam foto-foto yang diperlihatkan oleh ICC, LRA terbukti membunuh kelompok sipil dan anak-anak kecil yang seharusnya dilindungi. Tidak berbeda dengan Uganda, Kongo adalah negara yang selalu diliputi perang saudara. Anak-anak bahkan dijadikan tentara perang oleh beberapa kelompok. Karena pelaku tidak dihukum sesuai dengan tindakan mereka, banyak kebencian dan dendam yang ada di hati para korban selamat. Sesuai dengan investigasi ICC, maka arah kecurigaan mengarah kepada kelompok UPC. Dalam video yang berhasil didapatkan, terbukti UPC menyebarkan syiar kebencian dengan yel-yel berbunyi “they were 71, then we started beating them one by one… Lopondo has killed our people. That’s why we have to go and kill them…”. Salah satu yang dijadikan tersangka oleh ICC adalah pemimpin mereka, Thomas Lubanga. Pemimpin mereka terbukti melakukan kejahatan perang dengan menjadikan anak-anak sebagai pembunuh dan budak seks. Dan pada tahun 2006 ICC mengeluarkan surat penangkapan Lubanga karena terbukti melakukan tuduhan diatas. Kolombia mempunyai kisahnya sendiri. Lebih dari enam dekade perang, terjadi banyak kejahatan perang. Uniknya, pelaku kejahatan mendapat dukungan politik. Sebanyak 30 anggota kongres telibat dalam aksi kejahatan tersebut. Karena tidak adanya kemauan (unwilling) dari otoritas dalam negeri tersebut, maka ICC intervensi. Tidak berbeda dengan negara lainnya, konflik di Darfur, Sudan mengakibatkan otak kejahatannya Ahmad Harun dan Ali Kushayb ditangkap oleh ICC. ICC menegaskan bahwa melindungi (cover up) adalah bagian dari kejahatan. Di akhir, ICC menegaskan bahwa keuntungan adanya lembaga peradilan permanen adalah bisa berlakunya keadilan di mana saja. Dia mencontohkan diktator Chile, Pinochet yang tak teradili di negaranya sendiri. Tapi tertangkap di London.

Efek Visual dan Munculnya Dilema

            Harus diakui kampanye ICC melalui media visual cukup efektif dalam menggambarkan kekejaman kejahatan kemanusiaan. Dengan berbagai gambar yang tergolong sadis, korban genosida, kejahatan perang, dan kejahatan kemanusiaan lainnya akan segera menuai empati. Manusia sebagai makhluk empati akan terdorong emosinya sehingga akan segera menaruh empati tidak hanya kepada korban, tapi juga kepada aksi-aksi mendukung pencegahan dan pengadilan pelakunya. Sehingga kampanya ICC dengan media visual akan menuai aspek positif. Adegan lainnya yang menjadi efektifitas visual media adalah ketika ratifikasi statuta Roma. Adegan tersebut menggambarkan betapa anggota-anggota yang mendukung terbentuknya ICC adalah pahlawan. Secara tidak langsung, suasana kebahagiaan di Roma menandakan bahwa harapan atas penyelamatan kemanusian masih ada. Sehingga tidak pelak, ICC pun mendapat poin positif dari kampanye visual ini. Kampanye visual terbukti lebih efektif dibanding artikel-artikel panjang yang hanya bisa diakses kalangan terbatas.

            Namun kampanye ICC tidak akan sempurna tanpa tindakan nyata mengatasi masalahnya sendiri; Bahwa tidak semua negara meratifikasi statuta Roma dan berada di bawah kewenangan ICC. Negara tipe ini bukan negara kecil dan tanpa pengaruh, bahkan negara sekelas AS, Rusia, dan China tidak meratifikasi statuta Roma. Sehingga, skala efektifitasnya pun tidak sebesar idealnya yaitu mencakup semua negara di dunia. Hal ini sebenarnya disadari oleh pembuat film, dengan membahas dilematisme tadi walaupun tidak terlalu mendalam. Padahal, tidak berkutiknya ICC dalam dugaan kejahatan perang yang dilakukan oleh sekutu AS yaitu Israel kepada Palestina, membuat sebagian masyarakat internasional skeptis atas masa depan ICC. Kesan yang ditangkap, ICC hanya tajam ke bawah (negara-negara lemah) tapi tumpul keatas (negara-negara kuat). Hal ini banyak dijumpai diantaranya di negara-negara mayoritas muslim

            Namun masalah diatas seakan tanpa solusi, ketika menyadari kondisi negara yang tanpa tatanan (anarchy) sehingga menjadi hak bagi setiap negara untuk melaksanakan politik luar negeri sesuai kepentingan nasionalnya masing-masing. ICC tidak mungkin memaksa AS dan negara yang lainnya untuk ikut meratifikasi. Hal ini akhirnya menjadi dilema, karena masalah anarkisme dan kepentingan nasional menjadi masalah ilmu hubungan itu sendiri sejak sekian lama tanpa solusi yang berarti.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Esei, Politik Internasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s