Paramadina Kampus Liberal? Sebuah Tabayun

Di pemahaman sebagian umat Islam, terutama yang konservatif dan radikal, kampus Paramadina dianggap sebagai kampus ‘nyeleneh’ dan ‘sesat’. Kampus ini sering dihubungkan dengan pemikiran Islam Liberal yang diusung Jaringan Islam Liberal, dll. Bahkan dulu ketika saya masih di pondok dan mengutarakan ingin mencoba beasiswa di Paramadina, hampir satu angkatan geger. Mereka menganggap keputusanku pada saat itu adalah keputusan yang tidak masuk akal, bahkan ada yang menganggap konyol. Guru (di sana disebutnya ustadz) konseling ku sampai mengatakan, “ngapain kamu ke Paramadina? Kaya nggak ada kampus lain aja”. Ustadz tahfidz-ku juga berkata, “selama masih ada kampus yang bisa menyelamatkan aqidah kita, buat apa ke Paramadina”. Tidak heran, orang yang kuliah di Paramadina sampai sekarang masih dianggap melenceng dan nyeleneh.

Anggapan itu tidak mengherankan, karena kampus Paramadina didirikan oleh cendekiawan muslim yang kontroversial, Nurcholish Madjid alias Cak Nur. Pemikiran Cak Nur, yang terkenal sebagai penganut neo-modernis ala Fazlur Rahman, terkenal sebagai Ketua Umum PB HMI dua periode 1966-1969. Kontroversinya muncul ketika berpidato dengan judul  ”Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” pada tahun 1970. Pada isi pidatonya tersebut, Cak Nur mengkritik umat Islam yang terbelakang. Islam di Indonesia menurutnya sedang stagnan. Dalam pidato tersebut, dia menyarankan kepada umat Islam agar melakukan pembaharuan dengan melakukan empat hal: sekulerisasi, kebebasan berpikir, terbuka, dan idea of progress. Pidato tersebut mendapatkan banyak kritikan sekaligus makian dari beberapa umat Islam. Setelah menyeleseikan studi doktoralnya di Chicago University, Cak Nur membuat lembaga keagamaan bernama Yayasan Paramadina bersama beberapa intelektual muda pada saat itu yaitu Djohan Effendi, Utomo Dananjaya, Fahmi Idris, Emil Salim, Dawam Rahardjo, dll. Di dalam yayasan tersebut, diadakan beberapa kegiatan kajian keagamaan seperti Klub Kajian Agama (KKA). Setelah terjadinya reformasi di Indonesia pada 1998, Yayasan Paramadina membuat sebuah universitas yang diharapkan akan menjadi kampus alternatif di Indonesia. Awalnya kampus ini bernama Universitas Paramadina Mulya. Namun saat ini bernama Universitas Paramadina saja. Melihat hubungan historis yang begitu kuat, tidak heran bila kampus ini dihubung-hubungkan dengan pemikiran “liberal” Cak Nur. Namun apakah benar kampus Paramadina dijadikan tempat indoktrinasi gagasan-gagasan neo-modernisnya?

Mungkin kata liberal itu sendiri harus dijelaskan terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan liberal. Bila ‘liberal’ yang dimaksud adalah makna asli liberal itu sendiri yaitu adanya kebebasan berpikir dan berpendapat dalam lingkup akademis, saya kira betul Paramadina adalah kampus liberal. Semua paham dari yang kiri ekstrem sampai kanan ekstrem ada dan dilindungi kebebasannya di Paramadina. Bahkan semua kampus progressif di dunia ini adalah kampus liberal dalam arti tersebut. Kampus adalah wadah intelektual dimana segala pendapat dan ekspresi harus dijaga, agar gagasan yang bagus tidak terdominasi karena berbagai faktor. Tentu saja, sesuai dengan filsafat kebebasan ala J.S Mill, kebebasan yang tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Di Paramadina, dalam hal gerakan memang terdapat tradisi yang berbeda dengan kampus lain. Politik kampus yang terjadi  di kampus-kampus besar, di Paramadina cenderung tidak ada. Banyak faktornya, salah satunya adalah ketidakadaan pemikiran itu sendiri. Selain itu, kampus Paramadina yang sudah terlanjur dicap “liberal” membuat pemikiran-pemikiran yang berbeda sulit masuk kesana. Disamping karena biaya ngampus di Paramadina yang tidak kecil, membuat gagasan Cak Nur hanya bisa disaingi mayoritasnya oleh anak-anak hedon yang tentu saja apatis terdapat pemikiran dan gerakan politik.

Namun perubahan terjadi setelah Anies Baswedan menjadi rektor pada tahun 2007. Anies sebagai tokoh muda yang baru saja menyeleseikan doktor di Amerika Serikat (AS), membuat banyak perubahan berarti di Paramadina. Salah satunya adalah membuka Paramadina Fellowship (PF) yaitu program beasiswa kuliah gratis sekaligus tempat tinggal bagi anak kurang mampu. Program yang dimulai pada tahun 2008 ini menuai banyak apresiasi positif. Karena selain memberikan kesempatan belajar kepada anak kurang mampu, tapi juga menambahkan daya saing prestasi mahasiswa Paramadina. Tak heran, karena penerima beasiswa ini melewati seleksi yang sangat ketat.

Dampak lainnya adalah infiltrasi pemikiran ke Paramadina. Salah satunya adalah pemikiran tarbiyah/PKS dengan didirikannya KAMMI komsat gabungan yang meliputi kampus Paramadina, Bidakara, dan Sampoerna. Ketua komisariatnya adalah mahasiswa penerima beasiswa PF angkatan 2008 untuk jurusan Teknik Informatika. Selain itu, ada juga mahasiswa PF 2009 yang aktif di pengajian Majlis Rasulullah. Kajian tentang ekonomi syariah pun tidak ketinggalan. Celana ngatung dan jenggot tipis jilbab lebar kini mulai bermunculan di Paramadina walaupun tidak dominan. Adanya kelompok-kelompok yang tidak “khas Cak Nur” ini tidak mendapat resistensi yang berarti. Kalaupun ada, ini berkaitan dengan eksistensi KAMMI secara organisasi dan hanya kurangnya komunikasi antara petinggi masing-masing organisasi. Secara umum, Paramadina mulai menerima hadirnya pemikiran-pemikiran lain ini.

Selain adanya infiltrasi pemikiran melalui jaringan beasiswa, Paramadina di bawah Anies juga mulai mengalihkan marketisasi mereka dengan lebih menonjolkan aspek kampus umum dan modern, daripada sebagai kampus Cak Nur. Strategi ini tidak mengherankan, karena kampus Paramadina sering disalah pahami sebagai kampus liberal ala Cak Nur. Masyarakat Indonesia pun kini mulai mengenal Paramadina sebagai kampusnya “Anies Baswedan” daripada kampus “Cak Nur”. Anies yang sering tampil di TV, mulai populer di kalangan masyarakat terutama sejak meluncurkan Indonesia Mengajar yang diapresiasi banyak pihak.

Jadi apakah kampus Paramadina adalah kampus liberal? Jawabannya tergantung. Liberal secara makna aslinya yang memerdekakan manusia, iya. Liberal sebagai stereotype dan stigma buruk, tentu saja tidak. Wallahu a’lam.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Paramadina. Tandai permalink.

14 Balasan ke Paramadina Kampus Liberal? Sebuah Tabayun

  1. diki saefurohman berkata:

    mantep, cukup menggambarkan paramadina yang sebenarnya🙂

  2. hmmm.. tarbiyah/PKS??🙂

  3. Selalu Murah berkata:

    memang seharusnya kampus itu netral, semoga anda yakin akan langkah anda yang mulai “liberal” (saya bisa lihat dari tweet anda)
    “tukholif tu’rof” “anda berbeda anda dikenal” ternyata tujuannya cuma “uang” Ulil Abshar “idola anda” ternyata cuma cari dollar dan akan tobat bila sdh tua dan kaya
    http://republikblog.wordpress.com/2006/09/13/kutipan-jaringan-islam-liberal-dan-ulil-abshar-abdala/

    salam kenal dr selalumurah.com

  4. dzikr berkata:

    apa tergantung?? mana kebijakannya iya ya iya.. tidak ya tidak gitu aja ko repot..

  5. www.duniaelfietry.blogspot.com berkata:

    memang selama ini paramadina selalu di identikkan dengan JIL padahal sebenrnya bukan.
    lliberal dalm arti semua orang boleh masuk paramadina memang benar
    tapi kalo liberal yang disamakan dengan jaringan islam liberal itu sama sekali tidak benar.
    salam.
    PF 2010

  6. muklis abdulatip berkata:

    oke baru tau..

  7. octa05 berkata:

    Saya mmbaca buku2 yg diterbitkan brsama dg Universitas Paramadina. Dan yg saya baca, Univ. Paramadina mmg benar2 liberal, dan sekuler. Dan buku itu ditulis oleh org2 JIL. Jd sdh bs ditebak, bgaimna univ. Ini

  8. Angeliza tan berkata:

    hati-hati….. orang JIL hobinya bohong
    dari awal isinya bohong
    Alloh aja berani di bohongi….
    artikel seperti ini layak diduga sebagai “jebakan betmen”
    maklum…. muslim indonesia mulai banyak yg paham JIL
    jadi mendapat resistensi…
    Saat ini pendukung utama JIL adalah orang-orang yang ga kenal agama dan atau Hedon dan atau agama sebatas mie instan dan beasiswa dan atau mirip gitu…

  9. ikhwan berkata:

    Di mana sisi tabayunnya? Ini isinya hanya opini anda, sang pengagum berat Cak Nur. Bahka dengan cara anda menyebut “celana ngatung” saja sdh menunjukkan bgmn pola pikir anda

  10. sayaa berkata:

    Saya Pernah liat2 perpusnya.. isi buku2 nya ttg islam liberal..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s