Menguliti Efektifitas ASEAN Regional Forum

ASEAN Regional Forum (ARF) adalah sebuah forum multilateral sebagai sarana dialog dan konsultasi yang berkaitan dengan politik dan keamanan yang mencakup kawasan Asia dan Pasifik. Tujuan yang ingin dicapai oleh ARF tidaklah begitu besar, yakni hanya menjadi sarana konsultasi dan dialog sehingga menghasilkan transparansi dan kepercayaan antar regional. Dalam proses diplomasi multilateral tersebut juga diharapkan adanya arah bangunan positif antara negara-negara anggota ARF. Dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-27 ASEAN tahun 1994, para Menteri Luar Negeri menyetujui “ARF could become an effective consultative Asia-Pacific Forum for promoting open dialogue on political and security cooperation in the region. In this context, ASEAN should work with its ARF partners to bring about a more predictable and constructive pattern of relations in the Asia Pacific.”[1] Adanya komitmen tersebut menjadikan ARF sebagai ajang diplomasi multilateral, yang dampak dari adanya diplomasi itu adalah terciptanya kawasan yang damai dan kondusif, sehingga mendukung pembangunan ekonomi di setiap negara. Selain itu, ARF juga berkomitmen untuk mengatasi konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

Salah satu pertemuan ARF yang diadakan 27 Juli 1997 di Malaysia. Para menteri anggota forum menyambut adanya upaya membentuk kawasan bebas senjata nuklir demi keamanan  kawasan. Lalu pada pertemuan ARF ke-6 di Singapura pada 26 Juli 1999 membahas tentang konflik yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan seperti konflik Laut China Selatan, Burma (Myanmar), dan Timor Timur. [2] Pada awal 2000-an pertemuan ARF diadakan Bangkok, Thailand pada 27 Juli 2000. Pada pertemuan kali ini, para menteri banyak membahas tentang dampak globalisasi ekonomi terhadap stabilitas kawasan. Bila melihat ketiga pertemuan ARF diatas, dimana sarana yang digunakan yaitu multilateral dalam skala komunikasi dan dialog, tujuan dari ARF itu sendiri sudah tercapai. Yaitu, adanya kemauan dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk berdialog dan saling berkonsultasi merupakan prestasi sendiri bagi forum diplomasi semacam ARF.

Berkaitan dengan kemauan untuk berdialog, ARF dinilai berhasil dalam mengajak China untuk bergabung dan berdialog bersama satu meja dengan Amerika Serikat (AS). Kepemimpinan ARF oleh ASEAN yang “netral” dilihat China sebagai peluang masuk berbagai kepentingan nasionalnya. Dari perspektif China, kita pun bisa melihat faktor kepemimpinan ASEAN dalam ARF dinilai bisa menstabilkan hubungan kekuatan segitiga antara China-Jepang-AS. Salah satu kepentingan China adalah untuk mencegah meluasnya peluang AS dalam hal aliansi dan intervensi militer. Selain itu ARF dinilai China sebagai pintu masuk dalam mendekatkan diri dengan tetangganya, yang terpenting adalah ASEAN. Tidak menunjukkan sifat kooperatif dalam ARF dikhawatirkan akan mengganggu penetrasi ekonomi China ke Asia Tenggara. Isu lainnya yang menjadi concern lainnya di ARF adalah berkaitan dengan isu Taiwan. Dengan aktifnya China di ARF, pengaruh Taiwan diharapkan bisa diredam sehingga keanggotaan Taiwan dalam ARF tidak akan terjadi. Oleh karena itu, China adalah salah satu negara yang mencegah isu resolusi konflik menjadi agenda utama ARF. China khawatir bila ARF ikut campur terhadap masalah Taiwan.

Namun tindakan yang sebatas wacana dan pertemuan ini tak terlepas dari kritik. Tulisan GVC Naidu dalam papernya yang dimuat di Asia Pacific Issue[3], mengkritik ARF yang dinilainya tidak mempunyai taji dalam menyeleseikan konflik dan krisis yang terjadi dalam kawasannya. Naidu mengatakan bahwa ARF dalam konflik Timor Timur 1999 tidak mempunyai peran sama sekali karena menganggap masalah tersebut adalah masalah internal salah satu anggotanya. Padahal, menurut Naidu, ARF mempunyai kesempatan untuk menjadi fasilitator antara Indonesia dengan negara-negara yang mendukung intervensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam kasus Timor Timur. Dari kasus ini juga seharusnya ARF menjadi pintu masuk resolusi konflik negara-negara anggota lainnya, sehingga menjadi preseden di masa depan. Sehingga dalam ini, ARF dinilai gagal dalam menjalankan diplomasi pencegahan (preventive diplomacy) dan resolusi konflik (conflict resolution).

Berkaitan dengan itu, ARF tidak akan mempunyai peran yang penting bila kewenangannya hanya sebatas forum konsultasi. Untuk menjadi forum multilateral yang kredibel, ARF tidak boleh mengacuhkan tindakan nyata yang progressif.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Politik Internasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s