Quo Vadis Otonomi Daerah

Sebelas tahun Indonesia telah menjalani desentralisasi otonomi daerah. Dalam pelaksanaannya sebagai salah satu pengejawantahan reformasi ini, otonomi daerah telah mengalami berbagai dinamika yang mempengaruhi corak dan bentuknya sendiri. Tujuan dari desentralisasi adalah untuk mengimbangin peran daerah dalam upaya pembangunan bangsa dan negara. Hal ini dilatarbelakangi oleh kebijakan orde baru yang melakukan sentralisasi kekuasaan, sehingga kekuasaan pusat terlalu besar. Akibatnya banyak daerah yang dirasa kurang mendapatkan intensif untuk melaksanakan pambangunan didaerah.

Setelah masa reformasi, otonomi daerah dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Namun Otonomi daerah bukannya tanpa masalah. Berbagai masalah yang timbul banyak membuat rakyat Indonesia memandang negatif pelaksanaan otonomi daerah. Diantaranya adalah masalah antara pusat-daerah. Pusat seringkali merasa diabaikan dalam pengambilan keputusan dan kebijakan di daerah. Selain itu, pusat dalam hal ini menteri terkait, sulit berkoordinasi dengan kepala daerah untuk mengontrol maupun bekerja sama dalam sektor tertentu. Belum lagi konflik antara Gubernur dan Bupati. Bupati seringkali tidak mentaati instruksi dari Gubernur. Baru-baru ini yang terjadi, adalah tren “putus” nya pasangan kepala daerah yang akhirnya akan mengganggu kinerja kepala daerah itu sendiri. Segudang masalah diatas terjadi pada umur desentralisasi Indonesia yang baru seumur jagung.

Kontra-produktif?

Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia dapat dilacak dalam kerangka konstitusi NKRI. Dalam UUD 1945 terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan yakni, nilai unitaris dan nilai desentralisasi teritorial. Nilai dasar unitaris diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak akan mempunyai kesatuan pemerintah lain di dalamnya yang bersifat Negara. Artinya kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan pemerintahan.

Dikaitkan dengan dua nilai dasar konstitusi tersebut, penyelenggaraan desentralisasi di Indonesia terkait erat dengan pola pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hal ini karena dalam penyelenggaraan desentralisasi selalu terdapat dua elemen penting, yakni pembentukan daerah otonom dan penyerahan kekuasaan secara hukum dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus bagian-bagian tertentu urusan pemerintahan.

Tujuan Desentralisasi menurut Brian C Smith dibagi menjadi dua kategori; menurut kepentingan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pertama, kepentingan desentralisasi bagi pemerintah pusat adalah untuk memberikan pendidikan politik bagi rakyat yang di daerah. Dengan adanya desentralisasi, maka di daerah akan terjadi pemilihan kepala daerah yang akan menjadi pesta rakyat. Dalam pilkada itulah, diharapkan rakyat akan memilih pemimpin mereka masing-masing. Kedua, desentralisasi diharapkan menjadi pelatihan dan regenerasi kepemimpinan politik. Adanya pilkada langsung oleh rakyat didaerahnya, diharapkan akan memunculkan tokoh-tokoh baru. Ketiga, desentralisasi diharapkan bisa menciptakan stabilitas politik di daerah tersebut. Hal ini disadari bahwa kemunculan pergerakan separatis diakibatkan oleh ketidak-adilan pusat-daerah. Sehingga memunculkan keinginan untuk disintegrasi.

Sedangkan kepentingan desentralisasi bagi pemerintah daerah, pertama sebagai kesetaraan politik antara pusat-daerah. Kedua, diharapkan desentralisasi menciptakan stabilitas akuntabilitas lokal (local accountability). Dalam hal ini, akuntabilitas yang dimaksud adalah pembangunan sosial-politik dan pembangunan ekonomi. Ketiga, adalah partisipasi daerah dalam demokrasi. Dari semua tujuan “ideal” desentralisasi diatas, kita bisa mencoba menganalisis keberhasilan dan kegagalan yang sudah dicapai selama 11 tahun ber-otonomi daerah ini.

Poin yang paling menjadi fokus utama penulis adalah tujuan menciptakan stabilitas politik bagi negara tersebut. Dalam hal ini, Aceh bisa dijadikan contoh bagaiamana desentralisasi bisa menjadi daya tawar agar menghentikan perlawanan Gerakan Aceh Merdeka. Namun bila melihat kasus Papua, otonomi khusus yang diberikan kepada Papua tidak juga menghentikan perlawan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Didaerah lain, desentralisasi dalam hal pilkada malah menciptakan instabilitas yang tidak kecil. Kasus kerusuhan pasca pilkada oleh pendukung pasangan yang kalah marak terjadi dimana-mana.

Mencari Solusi Desentralisasi Yang Ideal

Dalam hal ini, penulis mencoba memberikan poin-poin menanggapi berbagai fenomena desentralisasi di Indonesia yang hampir “salah arah”. Pertama, pemerintah pusat tidak boleh lagi menutup mata dan abai terhadap dinamika desentralisasi didaerah. Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Dalam Negeri harus senantiasa meng-analisa berbagai masalah yang terjadi berkaitan dengan desentralisasi. Kedua, partai-partai yang ikut berkontribusi di parlemen harus membuat regulasi yang efektif dan komprehensif berkaitan dengan otonomi daerah. Hal ini termasuk tanggung jawab partai-partai yang ikut langsung dalam berbagai pilkada di daerah.  Ketiga, pemerintah harus memberikan perhatian lebih kepada daerah yang mudah gejolak di Papua. Solusi untuk Papua pun diharapkan bisa dilaksanakan segera. Keempat, banyak distorsi antara kebijakan dan realitas dalam hal otonomi daerah. Selain contoh Papua, banyak daerah lain yang pelaksanaan otonomi daerahnya tidak sejalan dengan kebijakannya. Maka Kemendagri harus bekerja untuk mewujudkan otonomi daerah yang berkeadilan antara pusat-daerah.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Esei dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s