Neo-Liberal

Critical review artikel “Neo Realism and Neo-Liberalism” Joseph S. Nye, Jr

Liberalisme adalah perspektif yang berpengaruh dalam diskursus Ilmu Hubungan Internasional. Betapa tidak, perspektif awal yang berkembang dalam hubungan Internasional adalah perspektif Liberalisme. Yang kemudian terjadi dialektika yang serius antara Liberalisme dengan Realisme. Diskursus ini terjadi lingkup awal yang terbatas pada pengaruh dan perdebatan aktor negara dan aktor non negara (State Actors and Non State Actors). Dimana Liberalisme yang memandang positif terhadap suatu usaha kerja sama internasioanl, melihat aktor non negara pun ikut berkontribusi dalam proses hubungan internasional. Sedangkan Realisme memandang bahwa aktor yang berkontribusi dalam hubungan internasional hanyalah aktor negara. Aktor-aktor lainnya tidak sepenting aktor negara. Perdebatan antara dua perspektif besar dalam politik internasional ini telah membuka perdebatan-perdebatan lainnya yang lebih besar.

Neoliberalisme menjadi sebuah “pembaharuan” dari perspektif Liberalisme. Pembaharuan yang terjadi ini akhirnya lah yang terbentuk Neoliberalisme. Atau liberalisme yang paling baru dan sudah disesuaikan dengan konteks zaman yang berubah. Namun dalam hal ini, pembaruan yang terjadi dikarenakan perubahan pula pada perspektif realisme. Dijelaskan oleh Nye, bahwa pada awal 1970an banyak peristiwa yang mencerminkan beberapa “doktrin” realisme. Nye mencontohkan bahwa Amerika Serikat (AS) pada masa pemerintahan Ronald Reagen menambah anggaran militernya untuk terus mendominasi dunia dalam hal angkatan perang. Hal ini mengingatkan pada Hans Morgenthau yang menilai sebuah kekuatan (power) salah satunya adalah terletak pada kekuatan militer. Sehingga hal ini dianggap sebagai tanda-tanda timbulnya neo-realisme. Selain itu, kutub politik internasional yang akan semakin multipolar.

Di lain pihak, pasar bebas semakin terbuka cepat dan terjadi dimana-mana. Perdagangan antar negara semakin intensif. Disamping itu, peran aktor non-negara semakin hadir dan berpengaruh di dunia. Contohnya adalah perusahaan Multinasional. Hal inilah yang menurut Nye sebagai bangkitnya neo-liberalisme.

Neoliberalisme yang dipaparkan oleh Nye adalah terbentuknya tiga syarat sebagai berikut: 1. Terciptanya demokrasi liberal 2. Komersial liberal dalam perdagangan 3. Terbentuknya institusi yang menangani regulasi yang fungsional. Argumen yang dipakai Nye dalam membuktikan adalah perdagangan ekonomi setidaknya akan menyampingkan perang nuklir. Mengutip pandangan Rosecrance, “if we can keep the world from actual war, and I trust Trade will do that, a great impulse will from this time be given to social reforms.” Bahwasanya perdagangan agaknya akan mencegah perang. Argumen lainnya tentang liberalisme komersial, masih mengutip pendapat Rosecrance, adalah bahwa ada kecenderungan perdagangan antara beberapa negara-bangsa. Sistem negara bangsa yang sudah ada sejak perjanjian Westphalia, semakin memperkuat kecenderungan itu. Sehingga proses perdagangan antar negara semakin luas terjadi.

Neo-liberal: Perspektif?

Bila kita menelisik terhadap berbagai literatur yang membahas tentang Neo-liberalisme, maka kita tidak akan lepas dari istilah “Konsensus Washington” (Washington Consensus). Namun bila kita melihat kembali artikel diatas maka tidak tersebut satu kata pun yang menjelaskan maupun berkaitan dengan Konsesus Washington. Sehingga, menarik untuk melihat apa yang dimaksud dengan Konsensus Washington ini. dalam hal ini penulis ingin menjadikan pembanding sebuah paper yang ditulis oleh Ekonomi INDEF, Ikhsan Modjo dalam sebuah diskusi di Freedom Institute, Jakarta. Untuk mempermudah maka penulis ingin membaginya dalam poin-poin berikut,

Pertama, Nye tidak menyebutkan secara eksplisit apa definisi dari Neo-Liberalisme. Apakah sebuah Perspektif atau Teori, misalnya. Nye hanya menyebutkan beberapa yang dipakai oleh Neo-Liberalisme dengan mengutip beberapa buku. Tidak ada definisi yang dipakai untuk membedah, makhluk apakah liberalisme ini? Menurut Ikhsan Modjo, Neo-liberalisme tidak lebih dari sekedar “revival” pemikiran liberal klasik yang meng-advokasi pasar bebas, kebebasan individu, dan nilai-nilai kebebasan lainnya. Bahkan term neo-liberal sudah disalah-artikan sebagai bentuk “stigma” dan “stereotype” pemikiran liberalisme.

Kedua, konsensus Washington yang sudah dijelaskan sedikit diatas tadi, mencakup beberapa kebijakan diantaranya, disiplin kebijakan fiskal, pengurangan subsidi, dll. hal ini dianggap bukan lagi sebagai nilai akademis, namun sudah menjadi agenda politik negara tertentu. Diantaranya adalah George Stiglitz. Namun ini pun tidak terbahas dalam artikel Nye.

Ketiga, sebab munculnya, menurut Ikhsan, dipicu krisis berupa stagflasi tahun 1970an di negara-negara maju yang memberi angin haluan ini untuk menyerang balik kubu prointervensi dan membawanya kembali sebagai wacana kebijakan ekonomi dominan. Resep neoliberal sukses mengurangi inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Perekonomian Inggris membaik tiga tahun setelah Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris pada tahun 1979. Demikian pula di Amerika Serikat, kepemimpinan Ronald Reagan selama dua periode (1981-1989).

Keempat, Ia juga merupakan perkawinan aliran ekonomi neoklasik yang menganut paham market primacy di satu sisi, dengan mazhab politik Libertarian-Austria yang mengusung kebebasan dan kemerdekaan invididu di sisi lain. Bukan lahir dengan sendirinya.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Politik Internasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s