Radikalisasi dan De-radikalisasi di Asia Tenggara

Critical Review Artikel “ The Road Less Traveled Islam Militancy In Southeast Asia” karya Lily Zubaidah 

Asia Tenggara adalah salah satu kawasan yang unik di dunia. Kawasan ini terdiri dari beragam etnis dan agama. Masyarakat Asia Tenggara yang multikultural ini menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang maju dan dinamis. Tidak hanya dalam ekonomi, namun juga dalam sosial, budaya, dan politik. Tidak heran bila kawasan ini selalu menarik perhatian dari berbagai kekuatan politik maupun ekonomi tertentu. Dengan penduduk lebih dari 500 juta orang, menjadi pasar potensial bagi tujuan ekspor berbagai negara. Begitu pula dalam bidang politik. Asia Tenggara terlalu potensial untuk dilewatkan bagi blok barat dan blok timur ketika perang dingin. Oleh karena itu, ketika perang dingin kawasan inilah yang termasuk menjadi lokasi perang yang sebenarnya, misal perang vietnam. Hal ini menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai kawasan strategis dalam struktur geo-politik internasional.

Dalam hal ini, Al-Qaeda sebagai organisasi yang dianggap sebagai islam militan pun menanamkan berbagai pengaruhnya di Asia Tenggara. Tidak kurang, Jamaah Islamiyah adalah  salah satu bentuk “cabang” tidak resmi Al-Qaeda di Asia Tenggara. Mereka dikenal dengan berbagai aksi terornya yang meresahkan. Setidaknya tokoh seperti Abu Bakar Baashir dan Umar Al-Faruq adalah tokoh besar yang berada dibalik Al-Qaeda “cabang” Asia Tenggara tersebut.

Namun di lain pihak, perkembangan khazanah keilmuan Islam pun berkembang pesat. Setidaknya di Indonesia ada beberapa cendekiawan muslim yang dianggap mempunyai kontribusi besar dalam keilmuan di Asia Tenggara. Nama-nama seperti Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Harun Nasution, dan Cesar Adib Majul, kontribusi keislamannya di kawasan Asia Tenggara hampir tak terbantahkan.

Artikel Lily Zubaidah menerangkan dengan sangat gamblang dan menarik tentang gerakan Islam militan di Asia Tenggara. Lily setidaknya menjelaskan bahwa ada dua alasan kuat berkembangnya paham Islam militan di Asia Tenggara, yaitu ketidak adilan politik dan ekonomi, dan reaksi atas perang terhadap terorisme yang digaungkan Amerika Serikat (AS) di seluruh dunia. Lily mengambil contoh gerakan islam separatis yang ada di Aceh dan Mindanao. Kedua gerakan tersebut nyatanya, menurut Lily, bukan disebabkan oleh ideologi Islam an sich. Namun dikarenakan adanya ketimpangan dan ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi. Pemerintahan yang otoriter pun menjadi musuh bersama melawan ketidak adilan. Setidaknya faktor ideologis islam tidak lah dominan. Faktor radikalisasi oleh Al-Qaeda dianggap tidak terlalu dominan dalam militansi tersebut, dan hanya bersifat sebagai katalis saja.

Perang melawan terorisme, sebagai kelanjutan dari “perang melawan komunis”, yang digaungkan oleh AS pasca kejadian 11 September membuat ketegangan antara Islam dan Barat kembali memanas. AS dalam hal ini, kembali memancing sentimen anti barat pasca 11 september. AS melibatkan dalam masalah yang kompleks dan rumit yang terjadi antara Islam dan barat. Hal ini kembali memancing sentimen negatif tentang ide-ide barat yang sedang berkembang di Asia Tenggara. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi sasaran kecaman atas kesewenang-wenangan AS dan sekutunya di Asia Tenggara.

Namun disisi lain perkembangan modernisme dan neo-modernisme Islam pun berkembang pesat, khususnya di Indonesia. Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid menjadi tokoh utama dibalik gerakan moderasi Islam ini. Mereka membawa gagasan-gagasan baru yang di kemudian hari akan merubah paradigma Islam. Isu-isu yang dibawa keduanya yaitu tentang demokrasi, pluralisme, tidak adanya negara Islam, dll. ditentang keras di Indonesia. Namun beberapa dekade kemudian hasil pemikiran mereka bisa dilihat keberhasilannya.

Deradikalisasi Asia Tenggara

Kekuurangan artikel Lily adalah tidak meng-highlight beberapa pemikiran yang me-deradikalisasi kan pemikiran radikal ala Al-Qaeda dan JI. Hal ini akhirnya menjadi kurang pas bila melihat perkembang islamisasi sekarang ini. Perbedaan nya sangat mencolok sekali bila melihat abad ke-20 dan awal abad ke-21 sekarang ini. Bila kita menelisik isu per isu, jelas perbedaan paradigma pemikiran Islam yang ada di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Misalnya dalam isu negara islam. Di awal-awal pembentukan negara Indonesia pertentangan antara kelompok islam dan sekuler sangatlah kuat. Negara Islam bagi kelompok Islam dan partai-partai Islam setelah kemerdekaan menjadikan agenda negara Islam dalam agenda utama mereka. Namun bila kita melihat isu keislaman yang berkembang sekarang, negara islam sudah dianggap sebagai isu yang kuno dan basi.

Proses deradikalisasi Islam Indonesia sudah alam dilakukan oleh Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid. Nurcholish mengawali pembaharuannya lewat kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ciputat. Nurcholis menyatakan beberapa pernyataan yang menyentak Umat Islam kala itu, seperti “Islam yes, partai Islam no”. Lalu Nurcholish pun menyatakan keharusan “sekulerisasi” yaitu pelepasan nilai-nilai sakral yang tidak seharusnya sakral dalam agama. Pada saat itu, pandangan Nurcholish dianggap melenceng, bahkan dicap sesat. Namun saat ini, pandangan seperti itu sudah banyak diterima oleh banyak umat Islam.

Abdurrahman Wahid melakukakan pembaharuan Islam dari bilik pesantren dan organisasi islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Gus Dur (panggilan akrab Wahid) menjalankan kepengurusan NU menjadi lebih rasioanl dan pluralis. Tindakannya yang sering melindungi kaum minoritas menjadikan dia sebagai bapak pluralisme Indonesia.

Luthfi Assyaukanie dalam bukunya, “Ideologi Islam dan Utopia” menjelaskan tiga ideologi politik umat Islam Indonesia sejak Orde lama hingga reformasi. Yang pertama adalah demokrasi Islam, yang diusung oleh para petinggi partai Masyumi pada awal-awal kemerdekaan. Kedua, demokrasi agama yaitu ideologi islam yang berkembang pada orde baru yang menjadikan “agama” pancasila sebagai landasan politik. Yang ketiga adalah demokrasi liberal yang diusung oleh Nurcholish Madjid, Gus Dur, dan Djohan Effendi. Dinamika wacana politik Islam tersebut menandakan bahwa perkembangan yang sangat pesat de-radikalisasi yang terjadi di Islam Indonesia.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Esei, Politik Internasional. Tandai permalink.

2 Balasan ke Radikalisasi dan De-radikalisasi di Asia Tenggara

  1. jk berkata:

    Menarik, saya setuju bagian “Islam yes, Partai Islam no”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s