Doorstoot Naar Djokja

Ada buku yang cukup menarik bagi penikmat sejarah Indonesia. Buku yang saya beli sewaktu mengikuti Pesta Buku Jakarta Juni kemarin ini berjudul “Doorstoot Naar Djokja: Pertikaian pemimpin sipil militer” Yang ditulis oleh jurnalis senior Kompas, Julius Pour. Buku ini menceritakan tentang agresi militer Belanda ketika menyerang Ibu Kota Indonesia pada waktu itu yaitu Yogyakarta.  Salah satu usaha yang diharapkan bisa menyelesaikan semua persoalan akibat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Jika serangan tersebut berhasil, maka dengan sekali pukul, pertahanan para ekstremis (maksudnya adalah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang bagi Pemerintah Belanda adalah Ekstremis) akan bisa dihancurkan dengan mudah, NKRI dihapuskan dari peta, dan sebuah Negara Indonesia Serikat, negara berdaulat tetapi masih diikat dalam satu Unite dengan Kerajaan Belanda, akan bisa didirikan di bekas wilayah jajahan Belanda. Karena kita tahu, Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia setelah menang Perang Dunia II, tidak pernah mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pemikiran tersebut mendorong Tentara Belanda, yang dipimpin Panglima KNIL Letnan Jenderal Simon Spoor, merancang sebuah operasi militer gabungan pasukan darat, laut, dan darat dengan nama sandi Kraai. Dan gagasan tersebut didukung sepenuhnya oleh louis Beel, Wakil Agoeng Mahkota Di Batavia. Setelah  melewati diskusi serta perdebatan panjang, akhirnya Perdana Menteri Kerajaan Belanda  Willem Dress bersedia memberikan lampu hijau dan Doorstoot naar Djokja dimulai pada hari Minggu pukul 00.00, tanggal 19 Desember 1948. Sebuah serangan secara mendadak yang dilakukan oleh pasukan baret merah KST merebut landasan terbang Margoewo. Untuk bisa dipakai sebagai pijakan bagi pasukan komando baret hijau mendobrak Djokja, Ibu Kota Republik Indonesia pada masa itu.

Serangan tersebut sangat mengejutkan para pemimpin Republik yang pada saat itu merasa masih sedang dalam perundingan dengan pemerintah Belanda. Perundingan ini dibawah mediasi dan pengawas KTN, komisi antarbangsa yang membawa mandat dari PBB, sebagai tindak lanjut pelaksanaan perjanjian diatas kapal USS Renville, beberapa bulan sebelumnya. Tetapi, serangan mendadak tersebut bukan hanya mengejutkan, juga langsung memicu pertikaian antarpemimpn Republik. Di satu sisi pimpinan militer bertekad menjawab serangan tentara Belanda dengan melancarkan perang gerilya. Di sisi lain, para pemimpin sipil ternyata sepakat untuk mencoba menerapkan sebuah strategi perlawanan baru melalu jalur diplomasi.

Dalam buku ini juga banyak diceritakan kisah-kisah haru dan menggugah rasa nasionalisme kita yang dilakukan oleh para pahlawan kemerdekaan kita. Dialog, kesaksian, dan peristiwa yang jarang ditemukan di buku-buku sejarah sekolah. Sebenarnya saya ingin mempublikasikan tulisan ini bertepatan dengan Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-56 kemarin. Namun, karena suatu hal, maka saya baru bisa mempublikasikannya sekarang. Dan insya Allah akan saya ceritakan sebagian kisah-kisahnya dalam blog ini. (Bersambung)

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Buku, Resensi, Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s