Perang Mata Uang di Forum G-20


 

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 adalah konferensi kepala negara-negara yang tergabung dalam kelompok G-20. Sidang puncak tersebut diadakan di Seoul 2010 yang rutin diadakan dalam jangka waktu tertentu. Negara-negara anggota G-20 adalah perluasan dengan pelibatan negara-negara berkembang yang sebelumnya hanya dari kelompok negara maju. Niat baiknya adalah untuk bersama-sama mengatasi permasalahan ekonomi-ekonomi global.

Agenda utama dari pertemuan 11-12 november sebenarnya adalah pengentasan krisis ekonomi global sebagai dampak dari resesi ekonomi pada tahun 2008. Negara-negara dengan pertumbuhan yang besar seperti China dan Brazil pun menekankan pada restrukturisasi badan finansial dan moneter seperti IMF dan World Bank. Yang nanti pada akhirnya China dan Brazil sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar akan mendapat ‘saham’ yang lebih besar di IMF.

Namun yang menjadi perhatian dunia bukanlah hal-hal esensial di atas yang menyangkut perekonomian global, akan tetapi menyoroti Amerika Serikat yang ingin menekan China di forum G-20. Lewat Presidennya Barack Obama AS terlihat sudah sangat jengkel melihat tingkah laku China yang sengaja menurunkan nilai mata uang Yuan terhadap dollar sehingga barang mereka tetap murah di pasaran. Industrialisasi China yang sangat pesat sehingga laju ekspor nya ke seluruh dunia sangat pesat. Hal ini membuat banyak negara-negara terutama negara barat menjadi berang. Ditambah lagi dengan manipulasi mata uang yang dilakukan oleh China.

Akhirnya agenda menekan China lah yang dijadikan agenda utama Barack Obama di forum G-20. Obama menggunakan bahasa ‘win-win solution’ untuk menekan China. Walaupun masih menggunakan embel-embel memacu pertumbuhan dan semacamnya, agenda utama Obama sangat terlihat adalah menekan China yang sudah merugikan AS.

Sebenarnya praktek saling sandra mata uang sudah terjadi ketika sistem merkantilisme masih dijadikan pedoman perekonomian dunia. Negara yang pada saat itu ikut campur dalam aktivitas ekonomi, menekan mata uang se-rendah-rendahnya agar barangnya bisa laku di pasaran. Hal ini memacu setiap negara melakukan hal yang sama. Di saat yang sama negara pun memproteksi pasar dalam negeri dari barang negara lain. Akibatnya timbullah apa yang dikenal dengan Depresi Besar (Great Depression).

Praktek yang sama dilakukan oleh China pada saat ini. Walaupun tidak melakukan proteksionisme terhadap pasar dalam negeri bahkan men-deregulasi tarif dan perdagangan yang masuk ke pasar dalam negerinya, namun dengan industrialisasi besar-besaran yang dijalankan tersebut, China kini menjadi negara industri dengan pertumbuhan ekonomi tercepat. Bersama India, Rusia dan Brazil, kini kekuatan negara dengan pertumbuhan terkuat tersebut membentuk aliansi Brazil, Russia, India, and China (BRIC). Walaupun aliansi tersebut masih baru, namun BRIC mulai menunjukkan dan berani melawan hegemoni barat.

Pertumbuhan ekonomi melaju sangat cepat walaupun ditengah deraan krisis ekonomi global. Pertumbuhan yang mecapai dua dijit pada tahun 2010 menjadikan China sebagai raksasa ekonomi baru yang dianggap mampu menandingi hegemoni Barat. Industrialisasi besar-besaran yang mendorong ekspor produk china ke seantero dunia menjadikan China sebagai negara industri baru yang cukup menakutkan barat. Pasar (market) dunia kini telah dibanjiri barang-barang China. Tidak hanya pasar negara-negara Asia dan Afrika, bahkan pasar negara-negara barat. Maka tak heran kini industri-industri di negara maju mulai ketakutan dengan meminta pemerintah agar industri mereka di proteksi.

Dengan ancaman ekonomi yang datang dari negara tirai bambu tersebut, negara maju seperti Amerika Serikat dirasa perlu oleh Obama untuk menekan China terkait manipulasi mata uangnya tersebut. Dalam kaitannya dengan Politik Luar Negeri AS, tentunya Obama akan gencar menekan China di Forum G-20 ini selain kebijakan lain yang menunjang ekonomi dalam negerinya.

Seperti yang diketahui, pada akhirnya Obama setelah gagal menekan China untuk membiarkan bebas mata uangnya, AS akhirnya ikut bermanuver agar dollar jatuh terhada mata uang lainnya. Cara yang dipakai sangat berbeda dengan China, yaitu dengan mencetak lebih banyak uang di pasaran. Seperti hukum ekonomi, semakin banyak uang beredar, maka nilai mata uang tersebut akan turun.

Diplomasi Obama ‘Tekan’ China

Dampak akan krisis ekonomi global bagi Amerika Serikat masih sangat kuat sewaktu pertemuan KTT G-20. AS memang dianggap sebagai biang keladi krisis ekonomi global. Betapa tidak, kredit macet properti adalah sebab krisis AS yang kemudian menjalar ke negara-negara lain. Sehingga dampak yang dirasakan AS cukup besar. Belum termasuk pengaruh dari agenda perang ke beberapa negara yang semakin menambah penderitaan AS.

Obama yang ingin melipatgandakan ekspor AS dalam lima tahun terakhir, agaknya sangat jengkel terhadap China. Sehingga dalam forum G-20, Obama ingin menekan China karena tindakannya menurunkan nilai mata uangnya yang dampaknya dirasakan banyak negara. Dalam berbagai pidatonya yang terkait forum G-20, Obama selalu menekankan bahwa perang mata uang akan memperburuk perekonomian global. Disamping embel-embel pemanis seperti mendukung percepatan tumbuhnya ekonomi negara-negara pasca krisis, Obama selalu menekankan pada pentingnya mencegah perang mata uang. Selain itu, Obama pun meyakinkan bahwa devaluasi yang dilakukan oleh China sebenarnya merugikan mitra dagangnya sendiri.

Menurut Obama, beberapa negara menikmati surplus yang banyak dari permainan pasar, namun akibatnya banyak negara yang dirugikan karena harus menderita defisit sehingga melakukan ekspor agar menahan laju pengangguran. Sehingga menurut Obama perlu dibuat ‘win-win solution’ untuk mengatasi masalah ini.

Tekanan AS terhadap Cina juga disampaikan secara jelas oleh Menteri Keuangan AS Timothy Geithner. Dia menegaskan, Cina tak akan bisa bertahan dari tekanan pasar terhadap mata uang yuan. Geithner mengartikan, tekanan pasar itu sebagai refleksi dari kepercayaan atas kuatnya pertumbuhan ekonomi Cina yang kemudian ingin melihat nilai tukar yuan menguat. Geithner pun mengingatkan, negara yang menolak tekanan pasar terhadap nilai tukar fundamental mata uang hanya akan menambah masalah ke negara yang menerapkan nilai tukar fleksibel.

Diplomasi Obama terhadap masyarakat dunia tentunya agar mereguk simpati masyarakat internasional sekaligus agar mengarahkan kecurigaan terhadap China. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mendapat dukungan dari negara-negara anggota G-20 lainnya. Sehingga pada penentuan kesepakatan umum hasil forum G-20, China menjadi ‘pesakitan’ karena dianggap telah menjadi penyebab defisitnya anggaran beberapa negara. Oleh karena itu AS menggalang dukungan agar berhasil menekan China.

Obama VS Hu Jintao

Diplomasi yang digunakan oleh Obama dalam memenangkan dukungan untuk ‘menghukum China’ di forum G-20 dengan menggunakan second track diplomacy dianggap tidak cukup. Diplomasi konvensional pun dipakai dengan bertemu bertatap muka. Dalam hal ini sebelum forum dimulai, Obama bertemu dan terlibat pembicaraan di ruang tertutup. Tidak ada yang tau hasil pembicaraan tersebut selain mereka berdua.

Yang pasti Obama sempat menyampaikan pidato singkat sebelum menemui Jintao. Dalam pidatonya tersebut Obama hanya menegaskan bahwa AS dan China sebagai raksasa ekonomi dunia mempunyai tanggung jawab agar ekonomi dunia kuat, berimbang, dan berkelanjutan. Seorang juru bicara gedung putih menginformasikan bahwa pertemuan tertutup tersebut memang membahas tentang nilai mata uang. Namun melihat sikap China yang tetap menolak mentaati AS di forum G-20, maka bisa jadi pertemuan tertutup antara dua presiden tersebut tidak mencapai kata sepakat.

Kegagalan Obama dalam menekan Hu Jintao menandakan Obama gagal dalam berdiplomasi konvensional bertatap muka dengan pemimpin China tersebut

Sikap Teguh China

Sedari awal sikap China tegas, menolak tuduhan AS bahwa China telah mempermainkan  mata uangnya. Keteguhan China pun berlanjut di forum G-20 yang pada kenyataannya China didukung banyak negara lain seperti Jerman dan Korea Selatan. Tindakan AS yang menekan China dianggap sebagai hal yang tidak patut, karena AS ingin agar nilai Yuan dinaikkan agar nilai dollar melemah. Hal itu yang tidak disukai oleh negara-negara anggota G-20. Pasalnya bila itu yang terjadi, maka perang mata uang benar-benar telah terjadi dan itu bukan solusi di era krisis global ini.

Presiden China Hu Jintao dan Perdana Menteri Wen Jiabao menolak keras tekanan dan ancaman tersebut. Dengan memenuhi tekanan AS bahwa ekspor China mendapat gangguan yang serius dan dapat berakibat kegoncangan besar dalam perekonomian dalam negeri China, maka tekanan harus dipertimbangkan dengan penuh kehati-hatian. Terutama ada fakta-fakta tidak ada hubungan rendahnya nilai Yuan dengan defisit perdagangan AS. Justru tabungan rumah tangga yang sangat rendah warga AS dan defisit keuangan yang berlangsung dari tahun ke tahun adalah akar penyebab malapetaka ekonomi AS.

Kemenangan China

Di samping tekanan AS terhadap China, Bank Sentral AS berencana membeli surat utang AS senilai 600 miliar USD. Langkah semacam itu sama artinya dengan mencetak dolar sebanyak-banyaknya tanpa fundament bernilai sehingga nilai dolar makin lemah. Dengan begitu, volume ekspor AS akan terkatrol dengan kian murahnya harga komoditas Paman Sam di pasar global. Hal ini sama saja dengan men-devaluasi secara tidak langsung dollar.

Tindakan seperti ini membuat sentimen dari negara anggota G-20 lainnya semakin kuat. Hal ini ditegaskan diantaranya oleh Jerman. Menteri Keuangan Jerman menganggap kebijakan AS tersebut tidak memiliki unsur solutif sama sekali dan irrasional. Pasalnya, hal itu bukan hanya tidak akan bisa meringankan krisis ekonomi global tapi justru memunculkan hambatan baru bagi proses normalisasi perekonomian dunia.

Uniknya, meski selama ini Eropa kerap menentang kebijakan moneter China, namun dalam KTT G-20 di Seoul kali ini mereka menolak ajakan AS untuk menekan China. Dengan demikian bisa dikata Beijing terbilang sukses menciptakan friksi di kalangan negara-negara G-20 di KTT Seoul dan hal ini bisa dianggap sebagai kemenangan Negeri Tirai Bambu dalam ajang perang mata uangnya dengan Paman Sam. Hal ini pula ditandai oleh tidak adanya hal menyangkut perang mata uang China di kesepakatan umum G-20.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Esei, Politik Internasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s