Kebijakan Luar Negeri AS Terhadap Dunia Islam

– Pendahuluan

Hubungan antara dunia barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan Dunia Islam sejak persitiwa 11 september 2001 kembali menegang. Apalagi Amerika Serikat dibawah pemerintahan George W. Bush menyatakan perang terhadap terorisme dengan menyerang Afganistan. Sejak saat itu, dunia barat dianggap sebagai musuh oleh dunia Islam. Pada saat yang sama sentimen terhadap hal yang berbau Islam dan Arab. Tindakan kekerasan berbau rasial meningkat tajam setelah peristiwa 11 november.

Di Amerika Serikat terdapat dua partai terbesar, yaitu Partai Republik dan partai Demokrat. Partai Republik adalah partai yang terkenal dengan ide konservatifnya dan dikenal sebagai partai yang “hobi” perang. Itu terlihat pada dukungan yang mereka berikan pada invasi Amerika terhadap Irak maupun Afghanistan. Sedangkan Partai Demokrat terkenal dengan ide liberal nya. Partai Demokrat tidak terlalu agresif mendukung ide-ide invasi ke negara lain. Dalam perkembangannya, pemerintahan George W. Bush yang berasal dari Partai Republik digantikan oleh Barack Obama yang berasal dari partai Demokrat.

 

Konsekuensi peralihan pemerintahan pada pemilu 2007 yang memilih Barack Obama yang berasal dari Partai Demokrat sebagai Presiden Amerika Serikat, membuat kebijakan luar negeri AS pun berubah. Dalam kampanye nya, Barack Obama telah menyatakan bahwa akan melaksanakan perubahan besar dalam pemerintahan Amerika Serikat. Janji-janji perubahannya itulah yang kemudian mengantarkan Obama menjadi puncak pimpinan tertinggi AS. Pemerintahan George W. Bush yang dikenal “hobi” perang dianggap telah membawa negara AS kepada jurang krisis ekonomi akibat biaya perang yang terlampau tinggi.

Salah satu janjinya adalah membina kembali hubungan baik dengan negara-negara islam. Pada saat kampanye, Obama menjanjikan untuk menarik pasukan Amerika Serikat dari Irak. Janji yang pada saat itu dianggap merupakan simpati bagi negara islam. Selain itu, Obama pun berjanji untuk menutup penjara guantanamo yang selama ini dijadikan penjara bagi para tertuduh teroris.

Faktor masa lalu Obama pun dianggap sebagai hal yang istimewa. Pasalnya, Obama tidak lah asing dengan darah muslim. Nenek dari ayahnya yang berasal dari Kenya merupakan penganut muslim yang taat. Selain itu Obama pun pada masa kecilnya pernah merasakan hidup di Indonesia, negara yang berpenduduk mayoritas muslim.

Obama pun kemudian menjawab janji perubahannya dengan menyambangi Universitas Kairo, Mesir dan berpidato dihadapan umat muslim disana. Dalam pidatonya yang sangat memukau itu, Obama menekankan bahwa AS berkomitmen untuk menjalin hubungan baik dengan dunia Islam. Masa lalu antara dunia barat dan Islam yang kelam dinilaina merupakan sejarah yang telah lalu. Dan kini, amerika akan berkomitmen untuk menjalin hubungan baik dengan dunia Islam.

Latar Belakang Pemilihan Negara

Amerika Serikat (AS) adalah negara adidaya yang pada dasawarsa ini telah menjadi kekuatan unipolar setelah Uni Sovyet runtuh. Pengaruh dan kedigdayaan Amerika Serikat telah tersebar ke seluruh dunia. Kekuatan global sebagian besar di kuasai negeri paman sam ini. Sebagai negara adidaya AS mempunyai kebijakan luar negeri yang berkaitan dengan agenda kepentingan nasionalnya.

Dalam hal ini, pertimbangan penulis memilih AS sebagai objek analisis diantaranya sebagai berikut. Pertama, Amerika Serikat adalah negara adidaya yang setelah perang dingin (cold war) menjadi kutub utama dalam politik global. Sehingga kepentingan nasional yang terakumulasi dalam kebijakan luar negerinya mencakup seluruh wilayah dunia. Sehingga dalam percaturan politik internasional, posisi AS sangat lah besar.

Kedua, AS adalah negara menurut pengamatan penulis adalah yang mempunyai politik luar negeri paling efektif. Dalam hal ini berbagai kebijakan luar negeri AS mempunyai efektivitas tertinggi dibandingkan negara-negara lain. Sehingga AS adalah negara yang paling terlihat dan mudah di analisis Politik Luar Negeri nya. Ini sangat membantu dalam penyusunan referensi maupun tulisan itu sendiri.Menimbang kedua alasan utama tersebut, maka penulis memutuskan untuk mencoba meng analisis Amerika Serikat dalam essay ini.

Teori Analisis

Dalam usaha untuk memahami politik luar negeri Amerika Serikat tersebut, penulis dalam tulisan ini menggunakan kerangka pemikiran berupa teori persepsi. Teori persepsi dalam politik luar negeri bahwa persepsi para pembuat kebijakan luar negeri berpengaruh pada dan memainkan peran dalam menentukan kebijakan negara yang dilaksanakan pada politik luar negeri terhadap negara lain.

Setidaknya terdapat tiga unsur pokok dalam pembuatan politik luar negeri, yaitu; munculnya masalah atau situasi, adanya pemicu, dan adanya persepsi stimulus. Persepsi suatu hal yang tidak konstan karena setiap saat bisa berubah. Dengan demikian suatu persepsi para pembuat kebijakan luar negeri sangat rentan pada perubahan. Karena sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Atau mungkin pula perubahan para pembuat kebijakan. Sehingga dengan demikin bisa diambil kesimpulan bahwa persepsi sangat bergantung pada persepsi pembuat kebijakannya.

AS Yang Ramah Di Bawah Obama

Salah satu janjinya adalah membina kembali hubungan baik dengan negara-negara islam. Pada saat kampanye, Obama menjanjikan untuk menarik pasukan Amerika Serikat dari Irak. Janji yang pada saat itu dianggap merupakan simpati bagi negara islam. Selain itu, Obama pun berjanji untuk menutup penjara guantanamo yang selama ini dijadikan penjara bagi para tertuduh teroris yang sebagiannya adalah seorang muslim. Latar belakang Obama pun yang dianggap akrab dengan islam dijadikan alasan simpati kepada Obama.

Pada tahun 2009, Obama mengundang sekitar 3000 orang dalam pidato terbuka di Universitas Kairo, Mesir. Dalam pidato nya Obama berbicara tentang berbagai hal seperti Demokrasi, HAM, dan tentunya masalah Israel-Palestina. Dengan pidato tersebut Obama menegaskan komitmennya untuk terus membina hubungan baik dengan negara-negara Muslim.

Persepsi yang dibentuk ketika peristiwa 11 september membuat terorisme di identikkan dengan Islam. Presiden Bush yang mendapat laporan dari CIA bahwa Al-Qaeda lah dalang dibalik peristiwa tersebut membuat opini publik Amerika Serikat semakin negatif terhadap Islam. Aksi-aksi kekerasan tehadap penganut Islam dan keturunan Arab semakin banyak terjadi.

Seketika itu juga persepsi Islam adalah teroris dialami Presiden Bush. Yang dengan alasan ingin menangkap Osama Bin Laden menginvasi Afghanistan dan menggulingkan pemerintahan Taliban. Hal ini sangat melukai hati umat Islam, karena bagaimana pun Afghanistan adalah negara berpendudukan muslim. Maka, invasi ini semakin meruncingkan kebencian antara Islam dan Barat.

Namun disisi lain, perang melawan terorisme yang menghabiskan banyak anggaran AS berpengaruh pada perekonomian AS. Anggaran perang yang membengkak menyebabkan AS harus berhutang banyak. Hal ini pula yang ikut mempengaruhi AS ketika ikut merasakan resesi 2008.

Maka ketika pemerintahan berpindah dari tangan Bush ke Obama, maka persepsi tentang dunia Islam pun berubah. Sedari kampanye Obama telah menyatakan perubahan di berbagai hal. Slogan nya yang sangat terkenal yaitu Change membius para warga AS yang mengantarkan dia menjadi orang nomor satu di AS.

Persepsi Obama yang dari kecil memang sudah akrab dengan budaya Islam mempengaruhi persepsi pengambilan kebijakan Amerika Serikat. Ayahnya adalah  Muslim Kenya, dan ibunya Kristen Amerika. Mereka bertemu dan menikah di Hawaii ketika sama-sama menjalani studi di sana. Saat Obama berusia dua tahun, ayahnya bercerai dan pulang ke negara asal. Ibunya beberapa tahun kemudian menikah kembali dengan seorang muslim (lagi), asal Indonesia, yang bekerja di perusahaan minyak AS.

Walaupun Obama mengaku bahwa dia adalah seorang kristen yang yaat, keakrabannya dengan Islam membuat dia lebih memandang Islam dengan komprehensif tanpa kecurigaan berlebih. Obama selalu menyatakan bahwa Islam bukanlah teroris. Islam pun tidak mengajarkan terorisme. Dia selalu berkata, “ Amerika menyerang Al-Qaeda, bukan Islam.”

Selain itu, Partai Demokrat yang selama ini mengusung Obama tidaklah se agresif partai Republik yang terkenal “hobi” berperang. Partai demokrat selama ini partai yang mengusung ide liberal yang “kiri”. Berbeda dengan partai republik yang terkenal dengan ide konservativisme nya. Sehingga, perhatian utama pemerintahan Obama lebih berfokus pada isu-isu ekonomi dan sosial. Seperti ketika Obama berusaha mengesahkan undang-undang jaminan kesehatan pada 2010 kemarin.

Pada isu-isu perang dan keamanan, pemerintahan AS di bawah Obama tidaklah se agresif pendahuluanya George W. Bush. Dalam kasus perang Irak, Obama memutuskan menarik seluruh pasukannya dari kota seribu satu malam tersebut. Walaupun Afghanistan masih terdapat pasukan AS.

Isu keamanan yang sensitif lainnya adalah ketika AS dan sekutu nya mencoba melaksanakan mandat Resolusi PBB yang mencabut zona larangan terbang bagi pemerintah Libya. Hal ini dilakukan karena Dewan Keamanan menyimpulkan pemerintah Libya dibawah pimpinan Moammar Khadafi telah membunuhi rakyatnya sendiri. Oleh karena itu AS dengan sekutu segera meng invasi Libya. Isu ini sangat sensitif karena AS dianggap mengulang Afghanistan dan Irak.

Penulis berpendapat bahwa Libya berbeda dengan Irak maupun Afghanistan karena pada Libya menggunakan mandat Dewan Keamanan PBB. Selain itu yang harus diperhatikan adalah penyerangan udara ke Libya bukan hanya dilaksanakan oleh AS, tapi oleh sekutu yang pada akhirnya diambil alih oleh NATO. Penting untuk dipahami bahwa serangan ini AS hanyalah bagian kecil yang ikut terlibat.

Efektivitas Politik Luar Negeri

Berbagai hal yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk membina hubungan kembali dengan dunia Islam memang sudah laam digaungkan oleh Presiden Obama sejak pertama kali terpilih. Bahkan dari kampanye pemilihannya. Hal-hal yang membuat banyak orang yakin bahwa Obama  akan berbeda dengan para pendahulunya.

Sentimen anti Amerika sangat kencang berbunyi di negara Islam dan Arab. AS sudah dianggap sebagai musuh bersama kaum muslimin di seluruh dunia. Invasi negara muslim Irak dan Afghanistan dianggap sebagai dosa terbesar oleh kaum muslim. Sehingga banyak umat muslim yang menganggap AS adalah orang kafir yang harus diperangi.

Namun, usaha dialog yang digaungkan oleh pemerintahan Obama seakan membawa harapan dialog antara Islam dan barat. Pidato nya di Kairo membuka lembaran baru dalam sejarah dua peradabang besar Islam dan Barat. Obama dianggap mempunyai kans yang besar untuk membina kembali hubungan Islam dan Barat. Walaupun masih banyak kalangan umat Islam yang masih memangdang keras bahwa AS di masa Bush maupun Obama tidak ada bedanya.

Dalam hal ini penulis menyimpulkan beberapa hal tentang efektivitas politik luar negeri Amerika Serikat terhadap Dunia Islam ini.

Pertama, Usaha membina kembali hubungan baik dengan negara muslim adalah strategi Obam ayang memandang bahwa akan kontra produktif bila kebijakan luar negeri AS sama seperti pendahulunya Presiden Bush.

Kedua, menurut penulis, politik luar negeri AS kepada dunia Islam ini relatif berhasil dalam hal sebagian umat muslim yang moderat. Kaum muslim yang moderat inilah yang kini relatif percaya bahwa Obama mempunyai niat baik dan ingin kembali membina hubungan baik dengan dunia Islam. Walaupun masih sangat banyak kaum muslimin yang tidak percaya dan usaha dialog Obama hanya lah ‘diplomasi basa-basi’ untuk mereguk simpati umat Islam.

Ketiga, kondisi dalam negeri Amerika Serikat yang sensitif terhadap budaya Islam dan Arab pasca persitiwa 11 september kini sudah semakin mereda. Walaupun harus diakui kenangan kelam peristiwa itu masih sangat tajam didalam warga Amerika Serikat. Namun peran Obama tidak mempertajam sentimen anti Islam tersebut. Terbukti pada kasus masjid Ground Zero, dimana Obama membela didirikannya masjid di dekat terjadinya persitiwa 11 september. Obama pun pada bulan ramadhan sering mengadakan buka puasa bersama denga tokoh-tokoh Islam Amerika serikat sebagai bentuk mewujudkan toleransi beragama di Amerika Serikat.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Esei, Politik Internasional. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s