13 Hari Mencegah Perang

Resensi Film “The Thirteen Days”  

Film ini menceritakan tentang kisah “Teluk Babi” yang terkenal sebagai salah satu momen yang hampir menyeret aktor utama Perang Dingin, Amerika Serikat (AS) sebagai blok barat dan Uni Soviet (US) sebagai blok timur ke ajang peperangan yang sebenarnya. Dimana awal masalah terjadi ketika negara tetangga AS ,Kuba, yang dikenal sebagai blok timur, diketahui memiliki hulu ledak roket yang mampu menyerang wilayah AS. Pemimpin AS waktu itu John F. Kennedy akhirnya terjebak pada tuntutan para petingggi militernya yang seakan ngebet perang. Dan pada titik inilah film ini bertolak.

 Namun film ini menggunakan pendekatan yang cukup unik yaitu melalui pendekatan seorang tokoh sentral di lingkungan Gedung Putih atau “orang sekitar presiden” yaitu asisten Presiden JFK, Kenny O’Donnell. Peran Kenny O’Donnel terbilang sangat penting dalam perjalanan Presiden JFK, karena perannya sebagai tangan kanan presiden. Selain itu juga tidak jarang kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Presiden berdasarkan pertimbangkan Kenny O’Donnel.

Dalam Film ini setidaknya ada beberapa yang penulis tangkap,

Pertama, film ini menceritakan bagaimana pengambilan kebijakan di tingkat atas dengan sangat detail. Selain, itu film ini juga menggambarkan konflik yang terjadi pada pengambilan keputusan tingkat atas. Dimana seringkali lembaga kepresidenan yang dianggap sakral sulit terungkap ke area publik. Termasuk dalam hal pengambilan keputusan. Sehingga dalam hal ini, film the thirteen days patut diapresiasi karena menghadirkan pendidikan politik.

Kedua, film ini pun menggambarkan tentang bagaimana pengambilan suatu kebijakan luar negeri (Foreign Policy) dalam suatu negara super power, dimana kebijakan itu akan mempengaruhi dunia politik global. Dalam sistem internasional yang pada waktu itu yaitu dua kutub (bipolar), maka kebijakan luar negeri yang diambil oleh negara super power akan berpengaruh kepada negara-negara yang berada dalam blok-blok nya. Maka karena hal ini, presiden pada waktu itu JFK sangat berhati-hati dalam mengambil kebijakan dalam menyikapi adanya rudal yang dianggap berbahaya di negara tetangga AS yaitu, Kuba. Apakah invasi, blokade militer, dll. Sehingga banyak petinggi militernya yang sudah sangat berhasrat untuk menginvasi Kuba, akhirnya kecewa dengan kehati-hatian yang membuat AS lamban menyikapi kebijakan masalah Kuba.

Ketiga, diplomasi antar negara salah satu tujuannya adalah untuk berkomunikasi antar negara. Dalam film ini, pada awal masalah bergulir terlihat para petinggi militer ingin menggunakan  kekuatan represif dalam menyeleseikan kasus Kuba. Namun dalam penyeleseian akhirnya, Presiden JFK mengedepankan cara-cara persuasif dan diplomatis. Ini terlihat dalam usahanya memperjuangkan secara diplomatis di Majlis Umum PBB. Selain itu, Adik JFK, Bobby Kennedy pun diutus untuk turut berunding dengan perwakilan Uni Sovyet.

Keempat, petinggi militer AS pada saat pengambilan keputusan sikap terhadap Kuba terlihat sangat agresif ingin berperang. Padahal jelas, Presiden JFK menolak untuk berperang. Sehingga para jenderal militer AS ini sering menyebut presidennya sebagai ‘pengecut’. Tentu saja ini diungkapkan dibelakang sang presiden. Akibatnya, secara tak langsung, film ini juga menggiring penonton untuk mengasumsikan militer memang layak dicurigai dalam terbunuhnya JFK setahun setelah krisis itu berlalu.

Kelima, tentu saja film ini mengisahkan sebuah potret sejarah hanya dari versi AS. Jangan mengharapkan secuil pun adegan ketegangan di kalangan elite Uni Soviet. Nikita Kruschev memang disebut berkali-kali, tapi nama ini adalah ilustrasi belaka. Demikian pula dengan pemimpin Kuba, Fidel Castro. Alhasil, peran pahlawan lagi-lagi menjadi milik AS. Memang ada pernyataan JFK dalam film ini yang menyebut keberhasilan penghindaran perang nuklir adalah kemenangan semua, bukan cuma Amerika Serikat. Namun, adegan ini menjadi kembang gula yang keterlaluan manisnya.

Tentang Rofi

Rofi Uddarojat adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Jakarta. Salah satu pengagum berat Cak Nur. Hobinya membaca buku dan nonton bola, karena dia adalah fans fanatik Manchester United. Passion nya adalah di dunia Politik, Ekonomi, dan pemikiran Islam. Selain itu, suka menikmati sejarah nasional. Aktivitasnya sebagai aktivis kampus & twitter, Jurnalis, pengamat politik, dan penulis lepas. Bisa di hubungi via twitter: @Rofiuddarojat
Pos ini dipublikasikan di Film, Resensi. Tandai permalink.

3 Balasan ke 13 Hari Mencegah Perang

  1. Dini berkata:

    Fi, aku ada tugas resensi film ini buat matkul diplomasi… jadi tergoda pengen make…. heheh…

  2. Dini berkata:

    btw, nikita khruschev is reaaal…. *horror sound effect*

  3. Rofi berkata:

    Heh! Nggak boleh plagiat :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s