Mendorong Industrialisasi Dalam Negeri

*Dimuat di Suara Mahasiswa, Koran Seputar Indonesia edisi 14 Januari 2012

Kontroversi perdagangan bebas dengan China akhir-akhir ini kembali di permasalahkan. Barang-barang produk China yang membanjiri pasar dalam negeri membuat sebagian produsen nasional menjerit. Perdagangan bebas dengan China (ASEAN-China Free Trade Agreement) dianggap membuat industri nasional melemah. Banyak pula yang beranggapan bahwa industri Indonesia belum siap menghadapi persaingan dengan industri China. Sehingga banyak pengamat menambahkan ketidaksiapan kita dalam perdagangan bebas dengan China sebagai de-indutrialisasi dalam negeri.

De-industrialisasi yang terjadi di Indonesia sebenarnya sudah banyak diramalkan oleh para ekonom kita. Faisal Basri, ekonom UI yang mempopulerkan istilah de-industrialisasi tersebut, yang paling lantang menyebutkan bahwa Indonesia kini mengalami de-industrialisasi. Indikasi yang Faisal sebutkan yaitu dengan menurunnya porsi manufaktur dalam negeri di PDB dalam kurun waktu yang konsisten. Selain itu, setidaknya terdapat lima indikasi lainnya yang menyimpulkan de-industrialisasi dalam negeri. (TEMPO, 2009)

 Penyebabnya tidak kurang dan tidak lebih adalah masalah penghambat ekonomi negeri ini yaitu Infrastruktur dan ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy). Infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, dll sangat dibutuhkan untuk menunjang ekonomi Indonesia yang sedang tumbuh. Proses distribusi barang dan jasa yang berjalan begitu cepat bila tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang cukup akan menjadi masalah di kemudian hari. Masalah truk ekspedisi barang dan jasa yang menumpuk akhir-akhir ini terjadi di pelabuhan Merak adalah salah satu contohnya. Betapa perekonomian yang sedang tumbuh tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang baik.

Yang kedua adalah ekonomi berbiaya tinggi yang akhirnya akan menyebabkan inefisiensi. Masalah ini berkaitan erat dengan masalah birokrasi pemerintah dan korupsi. Berbagai hal yang berkaitan dengan izin, pajak, dll. akan menghambat laju industrialisasi yang sedang bergeliat. Selain itu masalah UU atau peraturan pemerintah yang dianggap menahan laju industrialisasi pun seharusnya di revisi. Hal ini berkaitan dengan listrik dan Sumber Daya Alam yang dibutuhkan industri dalam negeri agar di berikan porsi yang cukup untuk mendukung industrialisasi.

 Dua masalah penghambat diatas nyatanya membuat industri dalam negeri semakin tertinggal dengan arus barang dari luar negeri, terutama China. Pasar dalam negeri yang selama ini menunjang pertumbuhan ekonomi nasional akhirnya dikuasai industri luar negeri. Barang-barang China sekarang membanjiri pasar Indonesia. Bahkan, data menunjukkan bahwa 60% dari ekonomi Indonesia ditunjang dari konsumsi. Jadi selama ini perekonomian Indonesia hanya ditunjang dari pasar potensial yang dimiliki bangsa ini.

Pemerintah Indonesia harus segera menggalakkan kembali industrialisasi dalam negeri. Beberapa resep yang sekiranya diambil, selain mengatasi berbagai masalah diatas, adalah mendorong perbankan agar memberikan kredit kepada sektor industri. Selain itu kredit kepada Usaha Kecil Menengah (UKM) harus terus digalakkan. PNPM Mandiri yang kini sedang dicanangkan pemerintah harus terus dijaga sebagai bentuk usaha pemberdayaan UKM.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s